Sabtu, 10 Agustus 2024

BAB 1. Pagi Yang Genting

Pada suatu pagi yang damai di kota Jakarta, dimana sang surya mulai menampakkan diri bersama orang-orang yang telah bangun dan sibuk belalu-lalang mengejar waktu pagi yang genting mengingat hari ini adalah hari senin. Para pekerja yang bertaruh waktu memecah jalan ibu kota dengan kendaraan pribadinya atau kendaraan umum bahkan sebelum fajar menyingsing, bapak-bapak penjual koran yang menawarkan korannya disela lampu merah, para pedagang yang menjual aneka makanan untuk disantap sebagai sarapan, serta anak-anak sekolah yang mengejar waktu untuk melaksanakan upacara bendera, saling bersaing diantara kemacetan yang menjadi hal biasa bagi masyarakat disana. Namun, diantara hiruk pikuk dunia perkotaan itu, seorang remaja masih setia menikmati bunga tidurnya tanpa mengidahkan panggilan sang ibu yang berulangkali membangunkannya diluar kamar beserta suara ketukkan pintu yang kini terdengar tidak santainya. Tuk tuk tuk tuk Tuk tuk tuk tuk! Suara pintu kamar diketuk “Nak bangun nak! Udah siang ini. Nak, ayo bangun!” tuk tuk tuk tuk! Suara panggilan sang ibu turut mengiringi ketukan pintu.Namun, tidak ada tanda-tanda dari si anak bangun. ‘Haaaa’ sang ibu menghela nafas, tertanda menyerah untuk membangunkan anaknya “Ya Allah, Ya Allah, sabar. Kenapa susah sekali bangunin anak ini” Tidak lama kemudian terdengar suara motor di depan rumah mereka. Klakson dibunyikan sekali lalu si pengendara turun dari kijang besinya dan berjalan menuju kediaman sederhana itu. “Assalammu’alaikum, bunda, Rion! “ Teriakan dari seorang remaja yang bernama Andre Wijaya, sahabat dari Rion. “Andre masuk ya !” tanpa menunggu jawaban dari empunya rumah, Andre berjalan memasuki rumah dan menuju ruang tengah. Terlihat Bu Diana, ibunya Rion sedang berdiri di depan pintu salah satu kamar dengan raut pasrah. “Bunda” Sapa Andre dengan lembut. “Eeh, nak Andre. Kapan datangnya?!” Tanya Bu Diana setelah sadar dengan kehadirannya. Senyuman bahagia terpatri di raut wajahnya. Bu Diana merasa legah, karena biasanya Andre mampu membangunkan anaknya yang suka telat bangun itu. “Baru aja Bunda. Rion mana Bunda? Tanya Andre “Hmmm. Kayak kamu gak tau aja, itu masih tidur Rionnya” Jawab Bunda sambil menatap pintu kamar sang anak. “nak Andre, tolong bangunin ya. Bunda udah coba bangunin dia dari tadi.” Pinta Bu Diana. “Siap Bunda! Kalau urusan bangunin Rion serahkan saja pada ahlinya. Hehehe! Jawab Andre dengan cengiran sambil berpose hormat. “Ya udah. Bunda ke ruang jahit dulu ya” Ucap Bu Diana lalu beranjak menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pesanan jahitan. Andre mengangguk lalu mendekati pintu kamar. Dipegangnya pegangan pintu kamar sahabatnya itu. ‘Ceklek’ suara ganggang pintu kamar terbuka ‘Lah gak dikunci ternyata. Apa Bunda gak ngecek tadi ya’ gumam Andre dalam hati. Andre pun membuka pintu kamar sepenuhnya, lalu terlihatlah Rion yang masih terlelap namun hal itu membuat Andre mengucapkan salah satu kalimat thayyibah merasa takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. “Masyaallah, Riooon!” ucapnya Bagaimana tidak, dilihatnya sahabatnya itu tertidur dengan menggunakan pakaian solat lengakap diatas sejadah sembari memegang Al-Qur’an yang masih terbuka. Punggung dan kepalanya dia sandarkan ke pinggiran tempat tidur dengan mata terpejam. Perlahan Andre mendekati sahabatnya itu lalu mengguncang pelan tubuhnya dan memintanya bangun. Niatnya untuk membangunkan Rion dengan brutalnya seketika menghilang. Sepanjang sejarahnya membangunkan Rion, baru kali ini dia melihat Rion tertidur ketika sedang beribadah. “Yon, Yon, Rion. Ayo bangun!” ucap Andre sambil berusaha membangunkan Rion. Dua kali percobaan, akhirnya Rion menunjukkan tanda-tanda bangun. Matanya perlahan terbuka, dan dilihatnya sahabatnya Andre yang sudah siap dan rapi untuk sekolah. ‘Hoaaaaaam’ Rion menguap sambil menutup mulutnya “Ya Allah ngantuk bangeeeet” uacapnya dengan suara serak, lalu memejamkan matanya lagi. “Ya Allah, yon. Lo masih ngantuk? Udah siang ini, jam setengah tujuh! Gue udah siap, lo masih molor. Inget, inget kita mau upacara!” ucap Andre dengan geregetnya. Seketika mata Rion yang awalnya masih terbejam langsung terbuka sempurna. “Ya Allah, gue lupaaaaa!” teriak Rion. Rion segera bangun dari sandarannya, meletakkan Al-Qur’annya di atas meja belajar, melepaskan perangkat solatnya asal dan langsung menyambar handuk untuk mandi. “Yoooooon! Gesit ya….! Gue tinggalin lu kalau lama!” Teriak Andre, menambah kepanikan sahabatnya itu. Andre keluar dari kamar Rion menuju ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan gelak tawa. Merasa lucu dengan tingkah sahabatnya itu. Dalam perjalanannya kesana, dilihatnya dua tempat makan di atas meja tamu. Ya , itu adalah sarapan sekaligus bekal yang disiapkan Bu Diana untuk Rion. Rion jarang jajan di sekolahnya dan lebih memilih memakan bekal yang disiapkan ibunya. Terkadang Andre merasa iri dengan keharmonisan keluarga Rion. Meskipun berjuang sendiri sebagai orang tua tunggal Bu Diana tetap tidak lupa memperhatikan Rion disela kesibukannya. Sementara keluarganya, entahlah. Ayah dan Ibunya jarang ada di rumah karena sibuk dengan pekerjaan mereka. Jangankan menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu sekeluarga, menyempatkan untuk sarapan bersama saja tidak pernah. Tatapan yang mulanya penuh dengan senyum tawa itupun berubah dengan kesedihan. Tidak terasa air mata mengalir di sudut matanya. Segera Andre menghapus air mata itu lalu mengambil nafas, berusaha tabah dengan apa yang terjadi dengan keluarganya. Sepuluh menit berlalu, Rion pun sudah siap dengan seragam sekolah, sepatu di tangan kiri, dan tas ransel di bahu kanannya. Dengan sedikit berlari ke ruang tamu, Rion berteriak memanggil Bundanya. “Bundaaa! Bunda! Rion dan Andre mau berangkat sekolah” Bu Diana datang menghampiri mereka. Namun, terdapat satu kotak makan ditangannya. “Iya nak” Jawab Bu Diana. Bu Diana kemudian menyerahkan kotak makan itu ke Andre. Andre terlihat terkejut dan antusias menerimanya. “Loh, Bunda ini untuk Andre?” tanyanya “Iya, Bunda masak banyak tadi. jadi Bunda siapkan juga buatmu” jawab Bu Diana dengan senyumnya. Andre pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih ke Bu Diana . “Terima kasih, Bunda” “Iya, sama-sama. Jangan lupa dimakan ya nak” jawab Bu Diana Bu Diana kemudian mengambil dua kotak makan yang ada di atas meja tamu lalu memasukkannya ke dalam tas Rion. “Makan yang banyak ya, nak” pesan Bu Diana “Siap Bundaaa!” Jawab Rion Rion dan Andre kemudian berpamitan kepada Bu Diana. Tidak lupa mereka mencium tangannya dan Bu Diana membalas dengan mengusap kepala mereka. “Hati-hati dijalan!” Pesan Bu Diana “Iya, Bunda!” Jawab mereka serempak. Andre dan Rion kemudian menaiki motor dan bergabung dengan pengendara lainnya membelah jalanan ibu kota yang padat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU

Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...