Selasa, 13 Agustus 2024

BAB 2. Kena Masalah

Motor yang dikendarai Andre dan Rion bergerak cukup lincah di jalan raya. Andre yang sudah terbiasa berkendara cepat dengan lihai menyalip mobil dan motor, mengabaikan umpatan dari para pengendara yang disalipnya. Seiring dengan motornya yang melaju, sebanyak itu pula peraturan berkendara yang mereka langgar. Apa saja? Mari kita jabarkan… Pertama, mereka adalah pelajar yang rentang usianya 15 sampai 17 tahun. Yups, masih dibawah umur untuk mengedarai kendaraan dijalan raya sesuai dengan Peraturan Lalu Lintas Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mengisyaratkan bahwa anak-anak dan pelajar yang berusia dibawah 16 tahun dilarang keras mengendarai sepeda motor. Apalagi mereka belum cukup umur untuk memiliki SIM. Kedua, mereka tidak memakai pelindung kepala, yups helm. Rion tidak memakai helm karena lupa mengambilnya di bawah meja belajarnya. Tapi, Andre? Dia sengaja, karena ingin menikmati angin kencang yang menerpa wajah dan rambutnya. Untuk tebar pesona katanya. Ketiga, mereka berkendara melebihi batas kecepatan sehingga berulang kali menerobos lampu merah. Rion sudah mengingatkan Andre dari jauh ketika lampu lalu lintas beranjak dari kuning menuju merah. Tapi, ya, Andre tetap kukuh. Takut pintu gerbang ditutup. Selama perjalanan tidak henti-hentinya mulut Rion melafalkan doa. Cara Andre yang berkendara 80KM/Jam benar-benar membuat Rion takut dengan kematian. Dipersimpangan menuju sekolah, Andre dan Rion melihat Pak Mukhlis satpam sekolah sudah berjaga dipintu gerbang dan hendak menutupnya. Ketegangan terjadi antara Andre dan Rion. “Paaaak! Tunggu Kitaaa!” Teriak Andre. Urusan kedua masalah maut!. Dengan menambah kecepatan, motor Andre melaju kencang bahkan setengah terbang ketika melewati Pak Mukhlis. ‘Ckiiiiit’, mereka sukses smemakirkan motor walaupun hampir menabrak seorang siswi yang sedang berjalan. “Astagfirullah ! Gila lu ya Ndre !” ucap Rion dengan emosi sambil memukul punggung Andre “Aaaw!” ringis Andre, “ya maaf. Tapi berhasilkan tepat waktu?” jawab Andre dengan wajah tengilnya sambil mengangkat jari jempolnya. Mereka pun berjalan sambil setengah berlari dari parkiran ke kelas. Kejadian motor terbang itu disaksikan oleh siswa-siswi yang berada disana, termasuk seorang remaja berpakaian OSIS yang melihat kejadian itu. dia menatap tajam kemudian memiringkan senyumya. Lalu beranjak masuk ke kelas-kelas menyuruh siswa-siswi segera ke lapangan untuk melakukan upacara bendera. Sesampainya di kelas, Andre dan Rion segera meletakkan tas mereka dan mengambil topi. Namun, raut tercengang tampak di wajah Rion. “Lo kenapa?” Tanya Andre Dengan tatapan horror, Rion menoleh kearah Andre, dan berkata “ Topi gue ketinggalaan!” Rion merasa pasrah. Pastinya dia harus mengikuti upacara bendera dengan barisan tersendiri dan tentunya dibekali dengan hukuman dari OSIS yang sering tidak ada hati nuraninya agar siswa-siswi yang melanggar jera. Panas matahari terasa menjalar disekujur tubuh, bulir-bulir keringat menghujani para peserta upacara yang berbaris mengahadap cahaya matahari. Topi yang mereka gunakan tidak mampu menghalau sinar matahari yang menyilaukan mata. Tatapan tidak bersahabat tampak ditujukan kepada peserta yang berbaris di daerah teduh. Pohon-pohon rindang yang tumbuh subur dibelakang mereka mengalau sengatan matahari dan memberikan suasana sejuk. Rion yang berada di tengah dua kubu memperhatikan mereka dengan keringat dingin. Ikut berlarut dalam perang dingin itu. “Kalau uapacara ya fokus! Kepala jangan noleh kemana-mana” Tergur Pak Yanto dari belakang Rion. Rion terkejut lalu mengiyakan teguran dari Pak Yanto “I-iya Pak. Maaf” Sempat nafas Rion terhenti karena terkejut dengan Pak Yanto yang sudah ada dibelakangnya. Tatapannya tajam memperhatikan seluruh siswa yang upacara lalu berkeliling sembari menegur siswa yang tidak fokus atau rapi dalam barisan. Jangan lupa tongkat bambu yang selalu dia bawa, benar-benar menambah kesan horror seorang guru yang terkenal killer di SMA Satu Nusa itu. Rion menegakkan tubuhnya, kembali fokus dalam khidmatnya upacara bendera. Walau sebenarnya dia merasa malu karena hanya dia sendiri yang berada di barisan berbeda. ‘Dimana para siswa yang biasanya tidak lengkap atributnya ketika upacara?’ begitu pikirnya. ‘Semoga saja hukumannya gak aneh-aneh Ya Allah’ ratapnya dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU

Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...