Kamis, 15 Agustus 2024

BAB 3. GENG PEMBULI

Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk duduk sebentar. Rion menghela nafas, cukup lelah untuk berdiri selama 30 menit lebih meski dia berdiri di tempat yang tidak telalu panas, dan dia harus menunggu lagi karena hukumannya baru akan dimulai. Pak Yanto dan salah satu anggota OSIS kini sudah berada dihadapannya. Dengan segala kesabaran dan ketabahan, Rion mendengarkan ceramah dari Pak Yanto mengenai pelanggaran yang dia lakukan. Tidak hanya pelanggaran hari ini, Pak Yanto juga mengungkit masalahnya yang lain yang menurutnya merugikan. Padahal aslinya Rion juga tidak bermaksud melakukan kesalahan itu, termasuk juga hari ini. Teguran itu keluar masuk ke telinganya dan Rion hanya bisa menunduk dan terkadang mengangguk mengiyakan untuk tidak berulah lagi. “Ya sudah, jangan ulangi lagi” Pak Yanto mengakhiri ceramah panjangnya.”Kamu, berikan hukumannya” perintah Pak Yanto kepada anak OSIS disampingnya kemudian pergi menuju kantor guru. Anak OSIS itu kemudian melangkah mendekati Rion sambil bertepuk tangan pelan. “Wah, wah, wah, Rion, Rion. Lo lagi, lo lagi. Kayaknya gak bosen-bosennya ya lo ketemu gue” sembari menyunggingkan senyumnya. Anak OSIS itu adalah Argeo Liem, anak salah satu donatur sekolah dan menjabat sebagai ketua OSIS bidang kedisiplinan di sekolah mereka. Mungkin benar kata orang hari apes gak ada di kalender. Entah kenapa setiap kali Rion sedang bermasalah Argeo selalu ada dan tentu saja memberikan hukuman yang terkadang tidak sebanding dengan pelanggaran yang dilakukannya. Mungkin memberi hukuman kepada Rion sudah menjadi kegemaran bagi Argeo saking seringnya dia melakukan pelanggaran dan Argeo menjadi perwujudan nyata malaikat maut bagi Rion. “Yeeee! Siapa juga yang mau ketemu lu. Adanya eneg gue sering banget kena hukum lo mulu” jawab Rion dengan kesal disertai tatapan yang tidak santai. “Heh’. Biar gini ada manfaatnya gue di sekolah ini. Nah lo mana? Gak ada harinya buat masalah mulu. Ngerugiin diri sendiri lo!” jawab Argeo sembari menasehati Rion Rion terdiam. Dia sadar bahwa banyak masalah yang dia lakukan, tapi itu bukan dia yang memulainya. Kenapa mereka seakan membesar-besarkan? “Udah. Sekarang lo pergi ke gudang belakang sekolah. Lo bersihin sampe kinclong. Tuh ruang mau di pake nanti” perintah Argeo kepada Rion. Rion tercengang, gudang sekolah itu harus dia bersihkan sendiri? Yang benar saja! “Eh Geo. Gue Cuma gak pake atribut lengkap aja, masa hukuman gue gitu?!” protes Rion “Yang bilang pelanggaran lo cuma gak pake atribut aja siapa hah?!” Jawab Argeo dengan penekanan Raut bingung tampak di wajah Rion. Pelanggaran apa lagi yang dia buat? “Lo dan temen lo itu udah berkendara ugal-ugalan. Bukan hanya gak pake helm, nerobos lampu merah juga. Oh ya, kalian juga hampir nabrak orang di parkiran!” jelas Argeo dengan rinci membuat Rion mengingat momen menakutkanya bersama Andre. Rion kembali bingung, benar mereka hampir menabrak orang tadi diparkiran, tapi nerobos lampu merah? Dari mana dia tahu? ‘Apa dia cenayang ya?’ tanya Rion dalam hati. “Ya-a, tapi masa gue sendiri sih? “ Ringis Rion “Si Andre gimana?” lanjutnya “Temen lo itu nanti gue urus, yang jelas sekarang lo kerjain tugas lo. Nanti gue periksa dan gue laporin ke Pak Yanto. Awas kalo lo kabur!” Perintah Argeo dengan penegasan. Dengan berat hati Rion segera menjalani hukumannya itu. Sebelum pergi membersihkan gudang sekolah dia menggantikan baju putih abu-abunya dengan baju olahraga yang dia bawa. Dia tidak mau baju yang harusnya dikenakan dua hari itu bau apek karena keringatnya. Tidak lupa dia meminta izin kepada Pak Feri, guru olahraganya, agar dia tidak dinyatakan bolos dari pelajaran. “Haaaah, seharusnya gue ikut pelajaran olahraga sekarang, malah cosplay kang OB. Nasiiib, nasiiib” Keluhnya sambil membawa beberapa peralatan kebersihan yang dia pinjam dari ruang peralatan sekolah. Rion mencoba menikmati momen bersih-bersih gudangnya. Sesekali dia bersenandung menghilangkan keheningan di ruangan yang cukup luas itu. Sebenarnya dia sedikit takut mengingat gudang belakang sekolah ini jarang dikunjungi orang-orang dan lokasinya juga sedikit tersembunyi. ‘Heran gue. Kenapa ni gudang tiba-tiba mau dipake ya. Secara ni daerah jarang orang lewatin. Misterius banget’ pikir Rion dengan herannya sembari menyekop debu yang dia kumpulkan di sudut ruang dengan sapu lantai. Segala penjuru ruangan sudah Rion bersihkan, debu-debu yang semula menggunung menutupi lantai dan peralatan di dalamnya sudah dia singkirkan dengan sapu dan kemoceng yang dibawanya. Rasanya sangat melelahkan, apalagi harus dia kerjakan sendiri. “Alhamdulillah, tinggal ngepel lantai baru susun kursi-kursinya” ucap Rion sembari mencampurkan air pel dengan cairan pembersih lantai dalam ember. “Syukur gue sering bantu Bunda ngerjain pekerjaan rumah. Kalau gak ish ish ish. Ni badan gak bakal sanggup kerja berat kayak gini” Ucap Rion dengan bangga. Hampir 2 jam Rion membersihkan rungan itu dan kini gudang yang awalnya tampak suram sudah tertata rapi dan juga bersih. Aroma apel semerbak memenuhi ruangan karena lantai yang dipelnya belum sepenuhnya kering. Rion juga membuka tirai dan jendela-jendela disana sehingga udara masuk dan bersirkulasi baik. Baru saja Rion membanggakan diri dengan hasil kerja kerasnya, tiba-tiba ‘kruyuk’ perutnya berbunyi dan terasa perih. “aduuuh, laper banget. Kesian banget badan gue belum makan udah kerja rodi, hiks” saat hendak berbalik badan tiba-tiba ‘byuuur’ air pel yang awalnya di dalam ember sudah sepenuhnya berpindah ke tubuhnya dan mengenai lantai disekitarnya. “Astagfirullah. Lo apa-apaan!” teriak Rion dengan penuh amarah kepada si pelaku yang kini menatapnya dengan remeh. Hilang sudah rasa laparnya tadi “ Lo berani sama kita, hah!” ucap Dika yang ada di samping Roni, Si Pelaku Penyiraman. Sementara dua orang lainnya bernama Ervi dan Rio berdiri dibelakang mereka sambil mengamati lingkungan sekitar. “Gue gak punya masalah ya sama lo! Ngapain lo nyiram gue?!” tanya Rion dengan tidak kalah. “Lo memang gak punya masalah sama kita kita, tapi sama B O S kita!” Jawab Roni dengan menekankan kata BOS yang tidak lain adalah Raymond, si ketua Geng Black Wolf, yang ditakuti oleh anak-anak di SMA Satu Nusa. Geng Black Wolf sering melakukan pembulian kepada anak-anak yang menurut mereka terlihat lemah entah kepada adik kelas atau kakak kelas mereka. Namun, hal itu tidak terjangkau oleh pengamatan guru-guru disana karena mereka melakukan pembulian secara sembunyi-sembunyi. Sang ketua Raymond selalu berhasil menutupi apabila ada siswa yang mau melaporkan dan juga dia memiliki jabatan penting dalam keanggotaan OSIS. Hal itu membuat anak-anak yang terkena pembulian sulit untuk mengungkapkannya, ditambah lagi Raymond adalah anak pemilik sekolah. “Gini ya, gue bantu lo inget-inget lagi” Ucap Dika “Lo tau kan, naik motor ugal-ugalan itu bahaya! dan lo udah hampir nabrak pacar BOS kita!” teriak Dika dengan garangnya. Rion tertegun. Masalah tadi pagi ternyata berlarut-larut. Ingatkan dia untuk memarahi Andre, enak saja Andre yang hampir nabrak malah dia yang kena batunya. “ Ya kan bukan gue yang nyopirin! Tadi juga kita gak sengaja” jawab Rion dengan sedikit membentak Mendengar jawaban Rion, Roni menjadi tersulut emosi. Karena Rion bukannya meminta maaf malah memberikan jawaban dengan nada yang tidak menunjukkan rasa bersalah. Roni segera mengepalkan tangan dan hendak memukul Rion. Bersamaan dengan hal itu ‘plaak!’ sebuah tamparan keras dari sepatu mengenai wajah Roni dan tercetak sangat jelas. “Argh! Siapa yang lemparin gue pake sepatu!” Teriak Roni sambil memegang pipi kirinya yang memerah. Pipinya terasa berdenyut dan perihnya bukan main. Siapa yang tahan kalau wajahnya dilempar sepatu dengan kekuatan penuh? Apalagi tidak tahu siapa yang melempar. “Roni, kayaknya ada orang lain disini. Yok kita cabut!” ucap Rio dengan wajah paniknya. Keempat anak geng itu kemudian sepakat untuk pergi. “Awas aja lu. Lihat aja nanti!” Ancam Roni kepada Rion sebelum berlari meninggalkan area gudang. Rion mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya berulang kali. Dia berusaha mengontrol emosinya. Syukurlah bukan baju putih abu-abunya yang terkena siraman air pel kotor, kalau iya? Entah pakai baju apa dia nanti. Seseorang berlari dari kejauhan menghampiri Rion. Tampak dia hanya mengenakan sebelah sepatu kirinya, karena sepatu kananya sudah dia gunakan sebagai senjata untuk menghentikan perkelahian. “Yon, lo gak apa-apa?” Tanya sang penyelamat, Argeo. Rion menatap Argeo dengan tidak bersemangat “Gue udah basah kuyup gini masih lo tanya gak apa-apa?” jawab Rion dengan setengah emosi. Argeo terdiam. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Seharusnya dia tadi langsung mengawasi Rion tanpa harus ke ruang OSIS dulu. Dia pun tidak sengaja melihat Rion dan anak-anak Geng Balck Wolf sedang berseteru saat menuju gudang. Melihat kondisi yang semakin runyam, Argeo memberanikan diri melepas sebelah sepatunya dan melemparnya hingga mengenai wajah Roni. Sungguh itu bukan kesengajaannya. Dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk apalagi Rion harus menghadapi mereka sendiri. “Lo gak ada niatan laporin masalah ini?” tanya Rion kepada Argeo setelah dia merapikan peralatan kebersihannya dan hendak meninggalkan gudang. Namun Argeo hanya diam. Rion memiringkan senyumnya. “Udah gue duga. Bahkan ketua kedisiplinan OSIS kaya lo aja gak mampu hentikan mereka. Ini yang lo bilang berguna?” Ucap Rion mengembalikan kata-kata yang di ucap Argeo dilapangan tadi. Rion kemudian pergi meninggalkan Argeo dengan keterdiamannya. Bukannya Argeo tidak mau membantu, Sebenarnya dia juga sudah lelah dengan permasalahan yang dibuat anak-anak geng itu. Tapi, untuk berurusan dengan ketuanya adalah hal yang rumit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU

Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...