Senin, 19 Agustus 2024
BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari
meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya telah selesai menerikkan diri.
Bersamaan dengan langit yang mulai temaram dan guratan senja yang mulai datang,
para siswa berhamburan untuk pulang setelah bel sekolah dibunyikan. Mereka
saling beradu untuk pergi meninggalkan area sekolah menggunakan kendaraannya
ataupun hanya berjalan kaki. Dua orang satpam yang bertugas terlihat sibuk
menertibkan siswa-siswa di pintu gerbang dan juga para pengendara yang berlalu
lalang agar berhati-hati dalam melintasi jalan karena bertepatan dengan jam
pulang. Beberapa siswa tampak berdiri di sudut kiri gerbang bersamaan dengan
pengendara berjaket hijau yang datang menjemput mereka sesuai notifikasi pesanan
di aplikasi. Berbeda dengan banyaknya siswa yang pulang karena tidak ada lagi
kegiatan di sekolah, beberapa dari mereka memilih untuk menetap sejenak
dikarenakan adanya ekskul yang sedang berlangsung di hari itu. Ada juga yang
pergi menuju perpustakaan, mushola, atau hanya di kelas menyelesaikan pekerjaan
yang tertunda. ‘You have lost!’ seruan kekalahan dari game yang dimainkan
melalui ponsel bergema di kelas yang tersisa dua orang itu. Erangan terdengar
dari si pemain yang tampak emosi karena timnya kalah telak dari tim lawan yang
permainannya lebih kuat dan terkontrol. “Aaarggh! Payah banget tim gua. Senggol
dikit aja langsung kalah. Hadeeh” ucapnya sambil meggaruk kepalanya dengan
frustasi. Wajah tegang yang tadinya larut dalam permainan itu kini digantikan
dengan raut masam. Bukan hanya karena timnya kalah yang membuat moodnya hancur
tapi juga hukuman yang harus ditanggungnya dari taruhan permainan yang dia
sepakati sebelumnya. “Mana harus neraktirin Tomi sama Timnya lagi besok. RIP
dompet gue!” ucapnya sambil merebahkan kepala dan tangannya di meja. Dia
kemudian mengalihkan atensinya kepada temannya yang sedari tadi sibuk menyalin
catatan materi tanpa peduli dengan dirinya yang sedang berkeluh kesah. “Ri, lo
gak ada kasiaannya sama gue?” Tanyanya. “Gak” ucap orang itu yang tidak lain
adalah Eri dengan cepat, singkat, dan padat. Menurutnya apa yang terjadi adalah
resiko. Sebelumnya dia sudah memperingatkan temannya itu kalau mau main ya main
aja, gak usah pake taruhan. Kan ujung-ujungnya dia harus kesusahan sendiri.
“yeee, dasar kulkas” umpatnya dengan suara kecil. “Gue denger Vano!” ucap Eri
dengan sedikit keras sembari membalikkan halaman catatan. Keheningan pun kembali
diantara keduanya. Ya, dua orang siswa itu adalah Eri dan Vano yang masih betah
tinggal di kelas. Sebenarnya hanya Eri saja yang mau tinggal sebentar karena
menyalin catatan materi yang tertinggal ketika dia dispen tadi. Sedangkan Vano,
dia terlalu bosan untuk cepat pulang ke rumah jadi dia memilih menemani Eri di
kelas secara buku yang dipinjam Eri buku catatannya. Melihat Eri yang enggan
membuka suara lagi membuat Vano semakin bosan. Hanya suara goresan pena di
kertas yang terdengar. Vano kemudian membuka tasnya dan mengambil sebatang
coklat lalu memakannya. ‘Memang bener, coklat paling bisa balikin mood’ ucapnya
dalam hati didukung dengan ekspresinya yang dibuat-buat sangat menikmati.
Terhitung ada 10 batang coklat dengan berbagai merek dalam tasnya. Hampir setiap
hari dia mendapatkan coklat bahkan bisa lebih banyak dari hari ini. Sebenarnya
coklat-coklat itu untuk Eri yang diletakkan penggemarnya di meja ketika kelas
sepi. Lalu ada juga yang dititipkan langsung kepadanya untuk diberikan pada Eri.
Tapi, Eri tidak pernah mau menerimannya jadi dia pikir untuk dia saja. Lumayan,
coklatkan mahal. Tapiii bakal berkah gak ya? Pikirnya. “Ri, coklat dari fens lo
makin lama makin numpuk di gue. Lo gak mau ngambil barangkali satu” Ucapnya
sembari terus memakan coklat itu. “Buat lo aja” Ucap Eri tanpa menoleh ke arah
Vano. “ Ya, gue takut aja nanti kena karma. Secara ni coklat harusnya sampe ke
lu. Malah masuk perut gue. Nanti gue sakit perut gimana?” lanjutnya sambil
memperhatikan ekspresi Eri yang terlihat sangat fokus dengan buku catatannya.
“Gak bakalan. Bukan pertama kali ini aja lo makan tu coklat juga” Ucap Eri
meyakinkan Vano “He, he. Oke deh” Ucap Vano dengan cengirannya. Sambil memakan
coklatnya, tiba-tiba Vano teringat sesuatu. Ya, dia baru ingat Siska bilang Eri
sedang ada masalah ketika mereka tidak sengaja bertemu di kantin tadi siang. “
Oh ya Ri, Siska bilang lo lagi ada masalah ya?” Tanya Vano dengan nada yang
serius. Dia penasaran masalah apa yang sedang diresahkan teman kulkasnya itu
sampai-sampai perlu waktu buat nenangin diri. Siska juga tidak menyampaikan
secara rinci, Dia hanya bilang ‘temen lo lagi ada masalah. sampe galau berat
dia’ kenang Vano mengingat ucapan Siska tadi. Pertanyaan yang dilontarkan Vano
membuat Eri menghentikan aktivitasnya sejenak lalu kembali melanjutkan
tulisannya. Satu tarikan nafas diambilnya sebelum membuka suara. Ternyata dia
masih dilema dengan kejadian tadi siang. “Ada orang yang mirip gue banget di
media sosial” ucapnya. Vano yang sudah penasaran dari tadi merasa heran
mendengar penuturan temannya itu. “Gimana bisa Ri? Coba mana gue lihat!” Ucapnya
tidak percaya. Eri kemudian mengambil ponselnya dan membuka akun media sosial
yang ditemukannya tadi lalu diserahkan kepada Vano. “Waaah! Gila! Persis kaya lo
Ri!” Ucapnya dengan keterkejutan luar biasa. Tangannya bergerak lincah menggeser
foto-foto atau postingan lainnya di akun itu. “Dia gak nyolong postingan akun lo
kan, Ri?” lanjutnya memastikan. “Gak, itu murni punya dia semua” jawab Eri
meyakinkan Vano “dan lo tau Van? Tanggal lahir kita sama” Lanjutan kalimatnya
itu sukses membuat Vano menoleh dengan raut tidak terduga. “Dia orang mana?”
tanya Vano “Jakarta. Kalau dilihat dari seragamnya, dia sekolah di SMA Satu
Nusa” jawab Eri sembari memengang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Vano
yang mendapatkan penjelasan itu kemudian mengangguk. “Gue bakal bantu lo Ri”
Ucapnya dengan penuh keyakinan. “hah? Maksud lo apa?” tanya Eri dengan
kebingungan. “Gue punya banyak kenalan di Jakarta. Gue bakal minta bantuan
mereka buat nyelidikin si pemilik akun ini. Kita pastiin, dia kembaran lo atau
memang hanya kebetulan mirip lo aja” Ucap Vano dengan penuh semangat. Eri
berpikir sejenak mendengar tawaran bantuan dari temannya itu. Kalau dipikirkan,
dia juga tidak tahu harus bagaimana memastikannya sendiri secara jarak Bandung
dengan Jakarta cukup jauh. Ini juga masih semesteran sekolah bukan libur
semester. Kalau ke Jakarta secara mendadak, apa alasannya kepada orang tuanya?
Pasti tidak diijinkan. Eri pun setuju dengan tawaran temannya itu dan berterima
kasih padanya. “Thanks ya Van. Lo udah mau bantuin gue” Ucap Eri dengan tulus.
“Sama-sama. Santai aja” Jawab Vano sembari mengembalikan ponsel Eri. “BTW lo
udah selesai belum nulisnya?” Tanya Vano “ Anak-anak basket udah kelar tuh
ekskulnya” lanjutnya. “Udah. Ni buku lo. Thanks udah minjemin” Jawab Eri sembari
mengembalikan buku Vano. Vano pun mengiyakan ucapan terima kasihnya Eri. Eri
kemudian membereskan perlengkapannya ke tas sekolah. Lalu keduanya beranjak
meninggalkan kelas dan siap untuk pulang ke rumah. Kali ini Eri menebeng ke
Vano. Pak Jaka, supirnya, tidak bisa menjemputnya karena sedang mengantar ketiga
adiknya jalan-jalan sore. Baru saja sampai di tururan tangga lantai dua, Vano
dan Eri menghentikan langkah mereka. Vano tersadar bahwa kunci motornya tidak
ada di saku jaketnya. “Wah Ri, kunci motor gue ilang!” paniknya. “Yah gimana sih
lo. Lo kan tadi naroknya di atas meja. Gak lo ambil?” Ucap Eri mengingatkan
Vano. “Oh iya! Gue lupa. Tungguin bentar ya, gue ambil dulu” Ucap Vano kemudian
berlari menuju kelasnya yang ada di lantai tiga. Eri melanjutkan langkahnya ke
arah depan ruangan musik yang ada tempat duduk disana. Ya, dia ingin duduk
disana sambil menunggu Vano mengambil kunci motornya. Pintu ruangan musik yang
cukup luas itu tampak setengah terbuka. Disaat Eri melalui pintu itu, tiba-tiba
sayup-sayup terdengar bunyi dentingan piano yang dimainkan dengan merdu. Eri
menolehkan kepalanya dan terlihat ada seorang siswi yang sedang bermain piano.
Dia tidak bisa melihat wajahnya karena siswi itu memunggunginya. Alunan piano
yang memainkan lagu River Flows In You karya Yiruma benar-benar indah dan
menenangkan siapaun yang mendengarnya. Eri menjadi terlarut dalam permainan
piano itu dan memejamkan matanya dengan senyuman.
Hingga lagunya selesai dan Eri membuka matanya, dia terkejut karena siswi yang
tadi bermain piano sudah tidak ada lagi disana. ‘kemana dia?’ begitu pikirnya.
Kalau siswi itu sudah pergi harusnya pasti melewatinya karena posisinya ada di
depan pintu. “Lo kenapa Ri? Kayak kebingungan gitu?” Tanya Vano begitu sampai di
sana dan melihat Eri tampak kebingungan sendiri di depan ruang musik. “ Ah,
enggak. Nggak apa-apa” jawab Eri di tengah-tengah kebingungannya. Dia tidak
berkata jujur karena tidak ingin temannya nanti takut mendengar apa yang
dialaminya tadi. “Yaudah yuk cabut” Ucap Vano mengajak Eri segera pergi dari
depan ruang musik itu. Sebenarnya ada rasa sedikit meremang ketika dia sampai di
sana. Jujur dia takut, tapi kalau dia tunjukan, bisa kalah keren dia dengan
teman kulkasnya itu. Eri dan Vano kemudian meninggalkan sekolah dengan
menggunakan motor. Lalu lintas terlihat cukup ramai dengan orang-orang yang
menikmati senja yang menjinggakan langit.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu me...
-
Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk dudu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar