Sabtu, 17 Agustus 2024
BAB 4. SUATU KEBETULAN
Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai
angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu menerbangkan dedaunan
kering dari dahannya juga benda-benda ringan yang dillewatinya. Rasa dingin yang
datang terasa menusuk kulit sebelum akhirnya rintikan air dijatuhkan dari langit
Hujan yang mulanya hanya gerimis kini mengalir deras membentuk riakan
bergelombang dan menggenang di tanah. Suaranya yang meriuh memberikan ketenangan
dan kedamaian terutama bagi para pencintanya, pluviophile. Seorang remaja tampak
sedang menikmati pemandangan itu. Dia berdiri didepan jendela yang dibiarkannya
terbuka, membiarkan atmosfer diruangan berubah juga merilekskan dirinya dari
permasalahan yang membuat perasaannya kalut. Senyum merekah terpatri di wajahnya
yang tampan namun terlihat lelah. Pakaiannya terlihat tidak serapi tadi pagi.
Dasi yang dilonggarkan beserta dua kancing seragam yang dilepaskan. Almamater
kebanggaan yang bertuliskan OSIS diletakkannya sembarangan, dan jangan lupa
kedua lengan seragam yang digulungkannya setengah tangan. Sudah cukup lama hujan
menghiburnya namun dia belum bisa menenangkan diri. Dia masih tidak percaya
dengan apa yang ditemukannya tadi. Suatu kebetulan yang cukup berhasil
mengguncang jiwanya dibandingan dengan rumitnya pekerjaan sebagai ketua OSIS SMA
Galaksi yang sangat menyita waktu. ‘kriet’ pintu ruangan tebuka menampilkan
seorang siswi yang juga mengenakan almamater OSIS sepertinya lengkap dengan
papan nama yang bertuliskan Siska Ariyanti. Dilihatnya sang ketua sedang sibuk
dengan dunianya sendiri tanpa menyadari banyak pasang mata yang menatapnya
dengan penuh kekaguman. Ya, para penggemar yang hanya bisa menunjukkan kekaguman
mereka dari jauh karena sang idola tidak mudah didekati dan juga bersikap
dingin. “Lo masih mikirin hal tadi, Ri?” tanyanya sembari meletakkan beberapa
berkas yang terjilid rapi diatas meja. Teguran Siska berhasil menyadarkannya
dari lamunan. “Hmm” dehaman terdengar sebagai jawaban dari pertanyaann yang
dilontarkan. “Eri, Eri. Itukan cuma filter aja buat seneng-senengan. Jangan
terlalu dipikirin. Lagian lo pernah denger gak kalau katanya manusia itu punya
tujuh kembaran di dunia ini. Mungkin orang yang mirip lo itu salah satunya”
Jelas Siska kepada ketua yang bernama lengkap Eri Hatta Areez karena jengah
melihat kegalauannya. Menurutnya lebih baik Eri bersikap dingin dan tegas
seperti biasanya dibandingkan dia menunjukkan sisi galaunya itu. Karena tidak
tahu pasti apa yang dia pikirkan dan apa yang dia lakukan selanjutnya. Eri
tampak memutarkan matanya sembari menghembuskan napas. Dia kemudian berjalan
menuju meja kerjanya dan mulai membaca berkas-berkas yang dibawa temannya itu.
“Hmm proposalnya udah oke. Besok udah bisa disebarin” ucapnya sebelum
menandatangani dan mengecap proposal pengajuan bantuan dana untuk kegiatan di
sekolah mereka. “Oke. Besok gue, Ranti, Geo, dan Bima bakal temuin kliennya.
Doain semoga mereka setuju” Ucap Siska sebelum meninggalkan ruangan dan
meninggalkan Eri dengan kegalauannya lagi. Eri kemudian pergi ke toilet dan
membasuh mukanya. Dipandangnya wajahnya yang basah di cermin. Ingatannya di jam
istirahat pertama tadi kembali terputar dipikirannya. Dia tidak menyangka bahwa
akan menemukan sesorang yang sangat mirip dengan dirinya di media sosial.
Awalnya Eri menerima pesan messenger dari temannya Vano yang isinya ternyata
link filter untuk mencari orang yang mirip dengannya. Tidak lupa Vano juga
mengirimkan hasil pencarian filter miliknya yang menyatakan bahwa dia 78% mirip
artis Hollywood Justin Bieber. ‘Riiii! Gue katanya mirip artiiis! Mana langsung
ada akunnya lagi’ ‘lo coba deh dijamin seruuuu filternya’ begitu kata-kata yang
dituliskan Vano di messengernya itu. Melihat Eri yang berhenti dari aktivitasnya
membuat atensi Siska dan Ranti yang sedang disibukkan merevisi proprosal menjadi
terfokus kepada Eri yang terlihat tersenyum dengan sedikit tertawa. “Lo kenapa
Ri? Tumben amat senyum sampe ketawa gitu” Tanya Siska sembari mengambil jus
didepannya dan meminumnya. “Nih, si Vano ngirimin gue filter. Katanya bisa
nemuin orang yang mirip sama kita. Ada-ada aja tuh anak” Jawab Eri sembari
mengontrol ekspresinya semula. “Wih, keren tuh! Gue mau coba ah, siapa tahu
kembaran gue artis terkenal!” Ucap Ranti dengan semangatnya “Kirimin linknya ke
gue dong Ri!” lanjutnya meminta Eri membagikan link itu. “Gue juga dong!” Ucap
Siska yang tidak kalah semangatnya. Siska dan Ranti kemudian sibuk memfoto diri
mereka melalui filter yang mereka gunakan dan ya hasil yang ditunjukkan
benar-benar membuat mereka senang kegiarangan. “Waaaah! Gue mirip Yoona SNSD!”
Ucap Ranti heboh “Sumpah gak nyangka gue mana 82% lagi kemiripannya. Fiks pulang
ini gue mau kasih tau sama nyokap bokap gue kalau gue ternyata punya kembaran!”
Lanjutnya sambil memeluk dan menatap ponselnya berulang kali. “Waaah gue katanya
mirip Irene Red Velvet, Ti. Mana kemiripannya 86% lagi. Fiks kita sebenarnya
punya kembaran!” Ucap Siska yang tidak kalah hebohnya. Eri menatap kedua rekan
sekaligus temannya itu heboh dengan filter sampai geleng-geleng kepala. Mimik
wajah tegas yang awalnya ditunjukkannya kembali mencair dan penuh tawa. Dia
tidak menyangka melihat orang yang lagi halu menyenangkan juga ya. Siska yang
tersadar dengan perubahan ekspresi Eri sempat terpesona. Namun dia segera
mengontrol dirinya kembali setelah mendapat tatapan tanya dari Eri. “Kenapa?”
tanya Eri padanya “Ga-ak, gak apa-apa kok” Jawabnya sambil pura-pura mengalihkan
perhatiannya lagi ke ponsel “Eh, Ri. Lo cobain deh pake filternya. Seru loh! Nih
liat kita berdua dapet kembarannya diluar ekpetasi banget!” Ucap Ranti sambil
menunjukkan ponselnya. “Ngapain gue pake begituan. Mending lihat yang aslinya
aja udah ganteng dari lahir” Ucap Eri mencoba mengalihkan topik. “Gak, gak, gak!
Pokoknya lo harus coba!” Ucap Ranti sambil mengambil ponsel yang diletakkan Eri
disampinya. “Ni ya gue bantuin cara pake filternya” Ucap Ranti Ranti kemudian
mengarahkan ponsel itu kewajah Eri menggunakan filter yang sudah terbuka.
“Senyum Ri!” ucap Siska yang mendukung tindakan Ranti ‘Cekrek’ kamera berhasil
mengambil foto Eri yang tersenyum. Kemudian hasil pencarian mulai terlihat.
Ranti yang melihat hasil pencarian itu sontak terkejut. Mulutnya terbuka dan
matanya memancarkan tatapan tidak terduga. Dia tidak menyangkan bahwa ada orang
lain yang sangat mirip dengan Eri bahkan persentase kemiripannya 100%! “Wah
gila! Ri coba liat ini” Ucap Ranti sambil memberikan ponsel itu ke Eri kembali.
Eri tampak terkejut dan melihat dengan teliti gambar di ponselnya. Siska yang
penasaran juga ikut melihat dan ya ekspresinya tidak kalah terkejut dengan Eri
dan Ranti. “Wah! Ini mah bukan mirip lagi tapi beneran kayak lo Ri! Lo punya
kembaran?” Tanya Siska kepada Eri dan dijawab gelengan olehnya. Sungguh dia
tidak tahu dan karena kebetulan ini dia menjadi berpikir yang aneh-aneh. Apa
jangan-jangan dia bukan anak kandungnya Ayah dan Ibunya? secara kalau
diperhatikan wajahnya sama sekali tidak mirip dengan ketiga adiknya. Wah sungguh
memusingkan kepala! Eri kemudian mengklik akun yang tertera di gambar itu.
Dibacanya dengan teliti siapa pemilik akun yang mirip dengannya ini. Mereka
memang mirip atau akun itu adalah akun palsu yang sengaja memakai foto-fotonya.
“Rion Mahendra, asal Jakarta, lahir 18 Maret 2008” Ucap Eri dengan suara pelan
diakhir kalimatnya. Eri terkejut untuk kedua kalinya. Tanggal lahir yang tertera
di akun itu sama dengannya! dan juga foto-foto yang diunggah juga murni foto
pemilik akun itu. Tidak ada yang membuktikan bahwa foto-foto dari akunya sendiri
dicuri. Tanpa terasa Eri meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berbuat
apa. Perasaannya campu aduk, kepalanya terasa penuh membuatnya berspekulasi
sendiri. Jika benar dirinya memiliki kembaran, kenapa orang tuanya tidak
memberitahukannya? “Ri, Ri, Ri! Lo tenang!” Ucap Siska dan Ranti bersamaan
setelah mereka melihat suasana hati Eri yang tampak kacau. “Tenang Ri. Ini cuma
filter. Jangan lo masukin ke hati” Ucap Siska sembari memberikan minuman kepada
Eri. Eri mengabiskan minumannya hingga tandas. Namun perasannya masih belum
membaik. “Sorry, bisa tinggalin gue sendiri?” Ucap Eri kepada Siska dan Ranti
Siska dan Ranti pun saling menatap dan setuju untuk meninggalkan Eri sendiri di
Ruang OSIS itu. Melihat kondisi Eri yang masih syok dan tidak strabil membuat
mereka tidak yakin bahwa Eri masiih bisa melanjutkan diskusi bersama mengenai
proposal mereka. “Oke, gak masalah. Lo tenangin diri aja dulu. Tentang
proposalnya, Gue sama Ranti aja yang lanjutin revisinya. Lo tinggal baca-baca
lagi aja siapa tau masih ada yang kurang” Ucap Siska sembari menyuruh Ranti
untuk cepat beranjak dari kurisnya. “Thanks” Ucap Eri kemudian menenggelamkan
kepalanya dilipatan tangannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu me...
-
Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk dudu...

Ceritanya sangat menarik, semangat terus
BalasHapusTerima kasih telah berkunjung 🙏🤗
Hapus