Senin, 19 Agustus 2024

BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU

Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya telah selesai menerikkan diri. Bersamaan dengan langit yang mulai temaram dan guratan senja yang mulai datang, para siswa berhamburan untuk pulang setelah bel sekolah dibunyikan. Mereka saling beradu untuk pergi meninggalkan area sekolah menggunakan kendaraannya ataupun hanya berjalan kaki. Dua orang satpam yang bertugas terlihat sibuk menertibkan siswa-siswa di pintu gerbang dan juga para pengendara yang berlalu lalang agar berhati-hati dalam melintasi jalan karena bertepatan dengan jam pulang. Beberapa siswa tampak berdiri di sudut kiri gerbang bersamaan dengan pengendara berjaket hijau yang datang menjemput mereka sesuai notifikasi pesanan di aplikasi. Berbeda dengan banyaknya siswa yang pulang karena tidak ada lagi kegiatan di sekolah, beberapa dari mereka memilih untuk menetap sejenak dikarenakan adanya ekskul yang sedang berlangsung di hari itu. Ada juga yang pergi menuju perpustakaan, mushola, atau hanya di kelas menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. ‘You have lost!’ seruan kekalahan dari game yang dimainkan melalui ponsel bergema di kelas yang tersisa dua orang itu. Erangan terdengar dari si pemain yang tampak emosi karena timnya kalah telak dari tim lawan yang permainannya lebih kuat dan terkontrol. “Aaarggh! Payah banget tim gua. Senggol dikit aja langsung kalah. Hadeeh” ucapnya sambil meggaruk kepalanya dengan frustasi. Wajah tegang yang tadinya larut dalam permainan itu kini digantikan dengan raut masam. Bukan hanya karena timnya kalah yang membuat moodnya hancur tapi juga hukuman yang harus ditanggungnya dari taruhan permainan yang dia sepakati sebelumnya. “Mana harus neraktirin Tomi sama Timnya lagi besok. RIP dompet gue!” ucapnya sambil merebahkan kepala dan tangannya di meja. Dia kemudian mengalihkan atensinya kepada temannya yang sedari tadi sibuk menyalin catatan materi tanpa peduli dengan dirinya yang sedang berkeluh kesah. “Ri, lo gak ada kasiaannya sama gue?” Tanyanya. “Gak” ucap orang itu yang tidak lain adalah Eri dengan cepat, singkat, dan padat. Menurutnya apa yang terjadi adalah resiko. Sebelumnya dia sudah memperingatkan temannya itu kalau mau main ya main aja, gak usah pake taruhan. Kan ujung-ujungnya dia harus kesusahan sendiri. “yeee, dasar kulkas” umpatnya dengan suara kecil. “Gue denger Vano!” ucap Eri dengan sedikit keras sembari membalikkan halaman catatan. Keheningan pun kembali diantara keduanya. Ya, dua orang siswa itu adalah Eri dan Vano yang masih betah tinggal di kelas. Sebenarnya hanya Eri saja yang mau tinggal sebentar karena menyalin catatan materi yang tertinggal ketika dia dispen tadi. Sedangkan Vano, dia terlalu bosan untuk cepat pulang ke rumah jadi dia memilih menemani Eri di kelas secara buku yang dipinjam Eri buku catatannya. Melihat Eri yang enggan membuka suara lagi membuat Vano semakin bosan. Hanya suara goresan pena di kertas yang terdengar. Vano kemudian membuka tasnya dan mengambil sebatang coklat lalu memakannya. ‘Memang bener, coklat paling bisa balikin mood’ ucapnya dalam hati didukung dengan ekspresinya yang dibuat-buat sangat menikmati. Terhitung ada 10 batang coklat dengan berbagai merek dalam tasnya. Hampir setiap hari dia mendapatkan coklat bahkan bisa lebih banyak dari hari ini. Sebenarnya coklat-coklat itu untuk Eri yang diletakkan penggemarnya di meja ketika kelas sepi. Lalu ada juga yang dititipkan langsung kepadanya untuk diberikan pada Eri. Tapi, Eri tidak pernah mau menerimannya jadi dia pikir untuk dia saja. Lumayan, coklatkan mahal. Tapiii bakal berkah gak ya? Pikirnya. “Ri, coklat dari fens lo makin lama makin numpuk di gue. Lo gak mau ngambil barangkali satu” Ucapnya sembari terus memakan coklat itu. “Buat lo aja” Ucap Eri tanpa menoleh ke arah Vano. “ Ya, gue takut aja nanti kena karma. Secara ni coklat harusnya sampe ke lu. Malah masuk perut gue. Nanti gue sakit perut gimana?” lanjutnya sambil memperhatikan ekspresi Eri yang terlihat sangat fokus dengan buku catatannya. “Gak bakalan. Bukan pertama kali ini aja lo makan tu coklat juga” Ucap Eri meyakinkan Vano “He, he. Oke deh” Ucap Vano dengan cengirannya. Sambil memakan coklatnya, tiba-tiba Vano teringat sesuatu. Ya, dia baru ingat Siska bilang Eri sedang ada masalah ketika mereka tidak sengaja bertemu di kantin tadi siang. “ Oh ya Ri, Siska bilang lo lagi ada masalah ya?” Tanya Vano dengan nada yang serius. Dia penasaran masalah apa yang sedang diresahkan teman kulkasnya itu sampai-sampai perlu waktu buat nenangin diri. Siska juga tidak menyampaikan secara rinci, Dia hanya bilang ‘temen lo lagi ada masalah. sampe galau berat dia’ kenang Vano mengingat ucapan Siska tadi. Pertanyaan yang dilontarkan Vano membuat Eri menghentikan aktivitasnya sejenak lalu kembali melanjutkan tulisannya. Satu tarikan nafas diambilnya sebelum membuka suara. Ternyata dia masih dilema dengan kejadian tadi siang. “Ada orang yang mirip gue banget di media sosial” ucapnya. Vano yang sudah penasaran dari tadi merasa heran mendengar penuturan temannya itu. “Gimana bisa Ri? Coba mana gue lihat!” Ucapnya tidak percaya. Eri kemudian mengambil ponselnya dan membuka akun media sosial yang ditemukannya tadi lalu diserahkan kepada Vano. “Waaah! Gila! Persis kaya lo Ri!” Ucapnya dengan keterkejutan luar biasa. Tangannya bergerak lincah menggeser foto-foto atau postingan lainnya di akun itu. “Dia gak nyolong postingan akun lo kan, Ri?” lanjutnya memastikan. “Gak, itu murni punya dia semua” jawab Eri meyakinkan Vano “dan lo tau Van? Tanggal lahir kita sama” Lanjutan kalimatnya itu sukses membuat Vano menoleh dengan raut tidak terduga. “Dia orang mana?” tanya Vano “Jakarta. Kalau dilihat dari seragamnya, dia sekolah di SMA Satu Nusa” jawab Eri sembari memengang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Vano yang mendapatkan penjelasan itu kemudian mengangguk. “Gue bakal bantu lo Ri” Ucapnya dengan penuh keyakinan. “hah? Maksud lo apa?” tanya Eri dengan kebingungan. “Gue punya banyak kenalan di Jakarta. Gue bakal minta bantuan mereka buat nyelidikin si pemilik akun ini. Kita pastiin, dia kembaran lo atau memang hanya kebetulan mirip lo aja” Ucap Vano dengan penuh semangat. Eri berpikir sejenak mendengar tawaran bantuan dari temannya itu. Kalau dipikirkan, dia juga tidak tahu harus bagaimana memastikannya sendiri secara jarak Bandung dengan Jakarta cukup jauh. Ini juga masih semesteran sekolah bukan libur semester. Kalau ke Jakarta secara mendadak, apa alasannya kepada orang tuanya? Pasti tidak diijinkan. Eri pun setuju dengan tawaran temannya itu dan berterima kasih padanya. “Thanks ya Van. Lo udah mau bantuin gue” Ucap Eri dengan tulus. “Sama-sama. Santai aja” Jawab Vano sembari mengembalikan ponsel Eri. “BTW lo udah selesai belum nulisnya?” Tanya Vano “ Anak-anak basket udah kelar tuh ekskulnya” lanjutnya. “Udah. Ni buku lo. Thanks udah minjemin” Jawab Eri sembari mengembalikan buku Vano. Vano pun mengiyakan ucapan terima kasihnya Eri. Eri kemudian membereskan perlengkapannya ke tas sekolah. Lalu keduanya beranjak meninggalkan kelas dan siap untuk pulang ke rumah. Kali ini Eri menebeng ke Vano. Pak Jaka, supirnya, tidak bisa menjemputnya karena sedang mengantar ketiga adiknya jalan-jalan sore. Baru saja sampai di tururan tangga lantai dua, Vano dan Eri menghentikan langkah mereka. Vano tersadar bahwa kunci motornya tidak ada di saku jaketnya. “Wah Ri, kunci motor gue ilang!” paniknya. “Yah gimana sih lo. Lo kan tadi naroknya di atas meja. Gak lo ambil?” Ucap Eri mengingatkan Vano. “Oh iya! Gue lupa. Tungguin bentar ya, gue ambil dulu” Ucap Vano kemudian berlari menuju kelasnya yang ada di lantai tiga. Eri melanjutkan langkahnya ke arah depan ruangan musik yang ada tempat duduk disana. Ya, dia ingin duduk disana sambil menunggu Vano mengambil kunci motornya. Pintu ruangan musik yang cukup luas itu tampak setengah terbuka. Disaat Eri melalui pintu itu, tiba-tiba sayup-sayup terdengar bunyi dentingan piano yang dimainkan dengan merdu. Eri menolehkan kepalanya dan terlihat ada seorang siswi yang sedang bermain piano. Dia tidak bisa melihat wajahnya karena siswi itu memunggunginya. Alunan piano yang memainkan lagu River Flows In You karya Yiruma benar-benar indah dan menenangkan siapaun yang mendengarnya. Eri menjadi terlarut dalam permainan piano itu dan memejamkan matanya dengan senyuman.
Hingga lagunya selesai dan Eri membuka matanya, dia terkejut karena siswi yang tadi bermain piano sudah tidak ada lagi disana. ‘kemana dia?’ begitu pikirnya. Kalau siswi itu sudah pergi harusnya pasti melewatinya karena posisinya ada di depan pintu. “Lo kenapa Ri? Kayak kebingungan gitu?” Tanya Vano begitu sampai di sana dan melihat Eri tampak kebingungan sendiri di depan ruang musik. “ Ah, enggak. Nggak apa-apa” jawab Eri di tengah-tengah kebingungannya. Dia tidak berkata jujur karena tidak ingin temannya nanti takut mendengar apa yang dialaminya tadi. “Yaudah yuk cabut” Ucap Vano mengajak Eri segera pergi dari depan ruang musik itu. Sebenarnya ada rasa sedikit meremang ketika dia sampai di sana. Jujur dia takut, tapi kalau dia tunjukan, bisa kalah keren dia dengan teman kulkasnya itu. Eri dan Vano kemudian meninggalkan sekolah dengan menggunakan motor. Lalu lintas terlihat cukup ramai dengan orang-orang yang menikmati senja yang menjinggakan langit.

Sabtu, 17 Agustus 2024

BAB 4. SUATU KEBETULAN

Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu menerbangkan dedaunan kering dari dahannya juga benda-benda ringan yang dillewatinya. Rasa dingin yang datang terasa menusuk kulit sebelum akhirnya rintikan air dijatuhkan dari langit Hujan yang mulanya hanya gerimis kini mengalir deras membentuk riakan bergelombang dan menggenang di tanah. Suaranya yang meriuh memberikan ketenangan dan kedamaian terutama bagi para pencintanya, pluviophile. Seorang remaja tampak sedang menikmati pemandangan itu. Dia berdiri didepan jendela yang dibiarkannya terbuka, membiarkan atmosfer diruangan berubah juga merilekskan dirinya dari permasalahan yang membuat perasaannya kalut. Senyum merekah terpatri di wajahnya yang tampan namun terlihat lelah. Pakaiannya terlihat tidak serapi tadi pagi. Dasi yang dilonggarkan beserta dua kancing seragam yang dilepaskan. Almamater kebanggaan yang bertuliskan OSIS diletakkannya sembarangan, dan jangan lupa kedua lengan seragam yang digulungkannya setengah tangan. Sudah cukup lama hujan menghiburnya namun dia belum bisa menenangkan diri. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ditemukannya tadi. Suatu kebetulan yang cukup berhasil mengguncang jiwanya dibandingan dengan rumitnya pekerjaan sebagai ketua OSIS SMA Galaksi yang sangat menyita waktu. ‘kriet’ pintu ruangan tebuka menampilkan seorang siswi yang juga mengenakan almamater OSIS sepertinya lengkap dengan papan nama yang bertuliskan Siska Ariyanti. Dilihatnya sang ketua sedang sibuk dengan dunianya sendiri tanpa menyadari banyak pasang mata yang menatapnya dengan penuh kekaguman. Ya, para penggemar yang hanya bisa menunjukkan kekaguman mereka dari jauh karena sang idola tidak mudah didekati dan juga bersikap dingin. “Lo masih mikirin hal tadi, Ri?” tanyanya sembari meletakkan beberapa berkas yang terjilid rapi diatas meja. Teguran Siska berhasil menyadarkannya dari lamunan. “Hmm” dehaman terdengar sebagai jawaban dari pertanyaann yang dilontarkan. “Eri, Eri. Itukan cuma filter aja buat seneng-senengan. Jangan terlalu dipikirin. Lagian lo pernah denger gak kalau katanya manusia itu punya tujuh kembaran di dunia ini. Mungkin orang yang mirip lo itu salah satunya” Jelas Siska kepada ketua yang bernama lengkap Eri Hatta Areez karena jengah melihat kegalauannya. Menurutnya lebih baik Eri bersikap dingin dan tegas seperti biasanya dibandingkan dia menunjukkan sisi galaunya itu. Karena tidak tahu pasti apa yang dia pikirkan dan apa yang dia lakukan selanjutnya. Eri tampak memutarkan matanya sembari menghembuskan napas. Dia kemudian berjalan menuju meja kerjanya dan mulai membaca berkas-berkas yang dibawa temannya itu. “Hmm proposalnya udah oke. Besok udah bisa disebarin” ucapnya sebelum menandatangani dan mengecap proposal pengajuan bantuan dana untuk kegiatan di sekolah mereka. “Oke. Besok gue, Ranti, Geo, dan Bima bakal temuin kliennya. Doain semoga mereka setuju” Ucap Siska sebelum meninggalkan ruangan dan meninggalkan Eri dengan kegalauannya lagi. Eri kemudian pergi ke toilet dan membasuh mukanya. Dipandangnya wajahnya yang basah di cermin. Ingatannya di jam istirahat pertama tadi kembali terputar dipikirannya. Dia tidak menyangka bahwa akan menemukan sesorang yang sangat mirip dengan dirinya di media sosial. Awalnya Eri menerima pesan messenger dari temannya Vano yang isinya ternyata link filter untuk mencari orang yang mirip dengannya. Tidak lupa Vano juga mengirimkan hasil pencarian filter miliknya yang menyatakan bahwa dia 78% mirip artis Hollywood Justin Bieber. ‘Riiii! Gue katanya mirip artiiis! Mana langsung ada akunnya lagi’ ‘lo coba deh dijamin seruuuu filternya’ begitu kata-kata yang dituliskan Vano di messengernya itu. Melihat Eri yang berhenti dari aktivitasnya membuat atensi Siska dan Ranti yang sedang disibukkan merevisi proprosal menjadi terfokus kepada Eri yang terlihat tersenyum dengan sedikit tertawa. “Lo kenapa Ri? Tumben amat senyum sampe ketawa gitu” Tanya Siska sembari mengambil jus didepannya dan meminumnya. “Nih, si Vano ngirimin gue filter. Katanya bisa nemuin orang yang mirip sama kita. Ada-ada aja tuh anak” Jawab Eri sembari mengontrol ekspresinya semula. “Wih, keren tuh! Gue mau coba ah, siapa tahu kembaran gue artis terkenal!” Ucap Ranti dengan semangatnya “Kirimin linknya ke gue dong Ri!” lanjutnya meminta Eri membagikan link itu. “Gue juga dong!” Ucap Siska yang tidak kalah semangatnya. Siska dan Ranti kemudian sibuk memfoto diri mereka melalui filter yang mereka gunakan dan ya hasil yang ditunjukkan benar-benar membuat mereka senang kegiarangan. “Waaaah! Gue mirip Yoona SNSD!” Ucap Ranti heboh “Sumpah gak nyangka gue mana 82% lagi kemiripannya. Fiks pulang ini gue mau kasih tau sama nyokap bokap gue kalau gue ternyata punya kembaran!” Lanjutnya sambil memeluk dan menatap ponselnya berulang kali. “Waaah gue katanya mirip Irene Red Velvet, Ti. Mana kemiripannya 86% lagi. Fiks kita sebenarnya punya kembaran!” Ucap Siska yang tidak kalah hebohnya. Eri menatap kedua rekan sekaligus temannya itu heboh dengan filter sampai geleng-geleng kepala. Mimik wajah tegas yang awalnya ditunjukkannya kembali mencair dan penuh tawa. Dia tidak menyangka melihat orang yang lagi halu menyenangkan juga ya. Siska yang tersadar dengan perubahan ekspresi Eri sempat terpesona. Namun dia segera mengontrol dirinya kembali setelah mendapat tatapan tanya dari Eri. “Kenapa?” tanya Eri padanya “Ga-ak, gak apa-apa kok” Jawabnya sambil pura-pura mengalihkan perhatiannya lagi ke ponsel “Eh, Ri. Lo cobain deh pake filternya. Seru loh! Nih liat kita berdua dapet kembarannya diluar ekpetasi banget!” Ucap Ranti sambil menunjukkan ponselnya. “Ngapain gue pake begituan. Mending lihat yang aslinya aja udah ganteng dari lahir” Ucap Eri mencoba mengalihkan topik. “Gak, gak, gak! Pokoknya lo harus coba!” Ucap Ranti sambil mengambil ponsel yang diletakkan Eri disampinya. “Ni ya gue bantuin cara pake filternya” Ucap Ranti Ranti kemudian mengarahkan ponsel itu kewajah Eri menggunakan filter yang sudah terbuka. “Senyum Ri!” ucap Siska yang mendukung tindakan Ranti ‘Cekrek’ kamera berhasil mengambil foto Eri yang tersenyum. Kemudian hasil pencarian mulai terlihat. Ranti yang melihat hasil pencarian itu sontak terkejut. Mulutnya terbuka dan matanya memancarkan tatapan tidak terduga. Dia tidak menyangkan bahwa ada orang lain yang sangat mirip dengan Eri bahkan persentase kemiripannya 100%! “Wah gila! Ri coba liat ini” Ucap Ranti sambil memberikan ponsel itu ke Eri kembali. Eri tampak terkejut dan melihat dengan teliti gambar di ponselnya. Siska yang penasaran juga ikut melihat dan ya ekspresinya tidak kalah terkejut dengan Eri dan Ranti. “Wah! Ini mah bukan mirip lagi tapi beneran kayak lo Ri! Lo punya kembaran?” Tanya Siska kepada Eri dan dijawab gelengan olehnya. Sungguh dia tidak tahu dan karena kebetulan ini dia menjadi berpikir yang aneh-aneh. Apa jangan-jangan dia bukan anak kandungnya Ayah dan Ibunya? secara kalau diperhatikan wajahnya sama sekali tidak mirip dengan ketiga adiknya. Wah sungguh memusingkan kepala! Eri kemudian mengklik akun yang tertera di gambar itu. Dibacanya dengan teliti siapa pemilik akun yang mirip dengannya ini. Mereka memang mirip atau akun itu adalah akun palsu yang sengaja memakai foto-fotonya. “Rion Mahendra, asal Jakarta, lahir 18 Maret 2008” Ucap Eri dengan suara pelan diakhir kalimatnya. Eri terkejut untuk kedua kalinya. Tanggal lahir yang tertera di akun itu sama dengannya! dan juga foto-foto yang diunggah juga murni foto pemilik akun itu. Tidak ada yang membuktikan bahwa foto-foto dari akunya sendiri dicuri. Tanpa terasa Eri meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berbuat apa. Perasaannya campu aduk, kepalanya terasa penuh membuatnya berspekulasi sendiri. Jika benar dirinya memiliki kembaran, kenapa orang tuanya tidak memberitahukannya? “Ri, Ri, Ri! Lo tenang!” Ucap Siska dan Ranti bersamaan setelah mereka melihat suasana hati Eri yang tampak kacau. “Tenang Ri. Ini cuma filter. Jangan lo masukin ke hati” Ucap Siska sembari memberikan minuman kepada Eri. Eri mengabiskan minumannya hingga tandas. Namun perasannya masih belum membaik. “Sorry, bisa tinggalin gue sendiri?” Ucap Eri kepada Siska dan Ranti Siska dan Ranti pun saling menatap dan setuju untuk meninggalkan Eri sendiri di Ruang OSIS itu. Melihat kondisi Eri yang masih syok dan tidak strabil membuat mereka tidak yakin bahwa Eri masiih bisa melanjutkan diskusi bersama mengenai proposal mereka. “Oke, gak masalah. Lo tenangin diri aja dulu. Tentang proposalnya, Gue sama Ranti aja yang lanjutin revisinya. Lo tinggal baca-baca lagi aja siapa tau masih ada yang kurang” Ucap Siska sembari menyuruh Ranti untuk cepat beranjak dari kurisnya. “Thanks” Ucap Eri kemudian menenggelamkan kepalanya dilipatan tangannya.

Kamis, 15 Agustus 2024

BAB 3. GENG PEMBULI

Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk duduk sebentar. Rion menghela nafas, cukup lelah untuk berdiri selama 30 menit lebih meski dia berdiri di tempat yang tidak telalu panas, dan dia harus menunggu lagi karena hukumannya baru akan dimulai. Pak Yanto dan salah satu anggota OSIS kini sudah berada dihadapannya. Dengan segala kesabaran dan ketabahan, Rion mendengarkan ceramah dari Pak Yanto mengenai pelanggaran yang dia lakukan. Tidak hanya pelanggaran hari ini, Pak Yanto juga mengungkit masalahnya yang lain yang menurutnya merugikan. Padahal aslinya Rion juga tidak bermaksud melakukan kesalahan itu, termasuk juga hari ini. Teguran itu keluar masuk ke telinganya dan Rion hanya bisa menunduk dan terkadang mengangguk mengiyakan untuk tidak berulah lagi. “Ya sudah, jangan ulangi lagi” Pak Yanto mengakhiri ceramah panjangnya.”Kamu, berikan hukumannya” perintah Pak Yanto kepada anak OSIS disampingnya kemudian pergi menuju kantor guru. Anak OSIS itu kemudian melangkah mendekati Rion sambil bertepuk tangan pelan. “Wah, wah, wah, Rion, Rion. Lo lagi, lo lagi. Kayaknya gak bosen-bosennya ya lo ketemu gue” sembari menyunggingkan senyumnya. Anak OSIS itu adalah Argeo Liem, anak salah satu donatur sekolah dan menjabat sebagai ketua OSIS bidang kedisiplinan di sekolah mereka. Mungkin benar kata orang hari apes gak ada di kalender. Entah kenapa setiap kali Rion sedang bermasalah Argeo selalu ada dan tentu saja memberikan hukuman yang terkadang tidak sebanding dengan pelanggaran yang dilakukannya. Mungkin memberi hukuman kepada Rion sudah menjadi kegemaran bagi Argeo saking seringnya dia melakukan pelanggaran dan Argeo menjadi perwujudan nyata malaikat maut bagi Rion. “Yeeee! Siapa juga yang mau ketemu lu. Adanya eneg gue sering banget kena hukum lo mulu” jawab Rion dengan kesal disertai tatapan yang tidak santai. “Heh’. Biar gini ada manfaatnya gue di sekolah ini. Nah lo mana? Gak ada harinya buat masalah mulu. Ngerugiin diri sendiri lo!” jawab Argeo sembari menasehati Rion Rion terdiam. Dia sadar bahwa banyak masalah yang dia lakukan, tapi itu bukan dia yang memulainya. Kenapa mereka seakan membesar-besarkan? “Udah. Sekarang lo pergi ke gudang belakang sekolah. Lo bersihin sampe kinclong. Tuh ruang mau di pake nanti” perintah Argeo kepada Rion. Rion tercengang, gudang sekolah itu harus dia bersihkan sendiri? Yang benar saja! “Eh Geo. Gue Cuma gak pake atribut lengkap aja, masa hukuman gue gitu?!” protes Rion “Yang bilang pelanggaran lo cuma gak pake atribut aja siapa hah?!” Jawab Argeo dengan penekanan Raut bingung tampak di wajah Rion. Pelanggaran apa lagi yang dia buat? “Lo dan temen lo itu udah berkendara ugal-ugalan. Bukan hanya gak pake helm, nerobos lampu merah juga. Oh ya, kalian juga hampir nabrak orang di parkiran!” jelas Argeo dengan rinci membuat Rion mengingat momen menakutkanya bersama Andre. Rion kembali bingung, benar mereka hampir menabrak orang tadi diparkiran, tapi nerobos lampu merah? Dari mana dia tahu? ‘Apa dia cenayang ya?’ tanya Rion dalam hati. “Ya-a, tapi masa gue sendiri sih? “ Ringis Rion “Si Andre gimana?” lanjutnya “Temen lo itu nanti gue urus, yang jelas sekarang lo kerjain tugas lo. Nanti gue periksa dan gue laporin ke Pak Yanto. Awas kalo lo kabur!” Perintah Argeo dengan penegasan. Dengan berat hati Rion segera menjalani hukumannya itu. Sebelum pergi membersihkan gudang sekolah dia menggantikan baju putih abu-abunya dengan baju olahraga yang dia bawa. Dia tidak mau baju yang harusnya dikenakan dua hari itu bau apek karena keringatnya. Tidak lupa dia meminta izin kepada Pak Feri, guru olahraganya, agar dia tidak dinyatakan bolos dari pelajaran. “Haaaah, seharusnya gue ikut pelajaran olahraga sekarang, malah cosplay kang OB. Nasiiib, nasiiib” Keluhnya sambil membawa beberapa peralatan kebersihan yang dia pinjam dari ruang peralatan sekolah. Rion mencoba menikmati momen bersih-bersih gudangnya. Sesekali dia bersenandung menghilangkan keheningan di ruangan yang cukup luas itu. Sebenarnya dia sedikit takut mengingat gudang belakang sekolah ini jarang dikunjungi orang-orang dan lokasinya juga sedikit tersembunyi. ‘Heran gue. Kenapa ni gudang tiba-tiba mau dipake ya. Secara ni daerah jarang orang lewatin. Misterius banget’ pikir Rion dengan herannya sembari menyekop debu yang dia kumpulkan di sudut ruang dengan sapu lantai. Segala penjuru ruangan sudah Rion bersihkan, debu-debu yang semula menggunung menutupi lantai dan peralatan di dalamnya sudah dia singkirkan dengan sapu dan kemoceng yang dibawanya. Rasanya sangat melelahkan, apalagi harus dia kerjakan sendiri. “Alhamdulillah, tinggal ngepel lantai baru susun kursi-kursinya” ucap Rion sembari mencampurkan air pel dengan cairan pembersih lantai dalam ember. “Syukur gue sering bantu Bunda ngerjain pekerjaan rumah. Kalau gak ish ish ish. Ni badan gak bakal sanggup kerja berat kayak gini” Ucap Rion dengan bangga. Hampir 2 jam Rion membersihkan rungan itu dan kini gudang yang awalnya tampak suram sudah tertata rapi dan juga bersih. Aroma apel semerbak memenuhi ruangan karena lantai yang dipelnya belum sepenuhnya kering. Rion juga membuka tirai dan jendela-jendela disana sehingga udara masuk dan bersirkulasi baik. Baru saja Rion membanggakan diri dengan hasil kerja kerasnya, tiba-tiba ‘kruyuk’ perutnya berbunyi dan terasa perih. “aduuuh, laper banget. Kesian banget badan gue belum makan udah kerja rodi, hiks” saat hendak berbalik badan tiba-tiba ‘byuuur’ air pel yang awalnya di dalam ember sudah sepenuhnya berpindah ke tubuhnya dan mengenai lantai disekitarnya. “Astagfirullah. Lo apa-apaan!” teriak Rion dengan penuh amarah kepada si pelaku yang kini menatapnya dengan remeh. Hilang sudah rasa laparnya tadi “ Lo berani sama kita, hah!” ucap Dika yang ada di samping Roni, Si Pelaku Penyiraman. Sementara dua orang lainnya bernama Ervi dan Rio berdiri dibelakang mereka sambil mengamati lingkungan sekitar. “Gue gak punya masalah ya sama lo! Ngapain lo nyiram gue?!” tanya Rion dengan tidak kalah. “Lo memang gak punya masalah sama kita kita, tapi sama B O S kita!” Jawab Roni dengan menekankan kata BOS yang tidak lain adalah Raymond, si ketua Geng Black Wolf, yang ditakuti oleh anak-anak di SMA Satu Nusa. Geng Black Wolf sering melakukan pembulian kepada anak-anak yang menurut mereka terlihat lemah entah kepada adik kelas atau kakak kelas mereka. Namun, hal itu tidak terjangkau oleh pengamatan guru-guru disana karena mereka melakukan pembulian secara sembunyi-sembunyi. Sang ketua Raymond selalu berhasil menutupi apabila ada siswa yang mau melaporkan dan juga dia memiliki jabatan penting dalam keanggotaan OSIS. Hal itu membuat anak-anak yang terkena pembulian sulit untuk mengungkapkannya, ditambah lagi Raymond adalah anak pemilik sekolah. “Gini ya, gue bantu lo inget-inget lagi” Ucap Dika “Lo tau kan, naik motor ugal-ugalan itu bahaya! dan lo udah hampir nabrak pacar BOS kita!” teriak Dika dengan garangnya. Rion tertegun. Masalah tadi pagi ternyata berlarut-larut. Ingatkan dia untuk memarahi Andre, enak saja Andre yang hampir nabrak malah dia yang kena batunya. “ Ya kan bukan gue yang nyopirin! Tadi juga kita gak sengaja” jawab Rion dengan sedikit membentak Mendengar jawaban Rion, Roni menjadi tersulut emosi. Karena Rion bukannya meminta maaf malah memberikan jawaban dengan nada yang tidak menunjukkan rasa bersalah. Roni segera mengepalkan tangan dan hendak memukul Rion. Bersamaan dengan hal itu ‘plaak!’ sebuah tamparan keras dari sepatu mengenai wajah Roni dan tercetak sangat jelas. “Argh! Siapa yang lemparin gue pake sepatu!” Teriak Roni sambil memegang pipi kirinya yang memerah. Pipinya terasa berdenyut dan perihnya bukan main. Siapa yang tahan kalau wajahnya dilempar sepatu dengan kekuatan penuh? Apalagi tidak tahu siapa yang melempar. “Roni, kayaknya ada orang lain disini. Yok kita cabut!” ucap Rio dengan wajah paniknya. Keempat anak geng itu kemudian sepakat untuk pergi. “Awas aja lu. Lihat aja nanti!” Ancam Roni kepada Rion sebelum berlari meninggalkan area gudang. Rion mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya berulang kali. Dia berusaha mengontrol emosinya. Syukurlah bukan baju putih abu-abunya yang terkena siraman air pel kotor, kalau iya? Entah pakai baju apa dia nanti. Seseorang berlari dari kejauhan menghampiri Rion. Tampak dia hanya mengenakan sebelah sepatu kirinya, karena sepatu kananya sudah dia gunakan sebagai senjata untuk menghentikan perkelahian. “Yon, lo gak apa-apa?” Tanya sang penyelamat, Argeo. Rion menatap Argeo dengan tidak bersemangat “Gue udah basah kuyup gini masih lo tanya gak apa-apa?” jawab Rion dengan setengah emosi. Argeo terdiam. Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Seharusnya dia tadi langsung mengawasi Rion tanpa harus ke ruang OSIS dulu. Dia pun tidak sengaja melihat Rion dan anak-anak Geng Balck Wolf sedang berseteru saat menuju gudang. Melihat kondisi yang semakin runyam, Argeo memberanikan diri melepas sebelah sepatunya dan melemparnya hingga mengenai wajah Roni. Sungguh itu bukan kesengajaannya. Dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk apalagi Rion harus menghadapi mereka sendiri. “Lo gak ada niatan laporin masalah ini?” tanya Rion kepada Argeo setelah dia merapikan peralatan kebersihannya dan hendak meninggalkan gudang. Namun Argeo hanya diam. Rion memiringkan senyumnya. “Udah gue duga. Bahkan ketua kedisiplinan OSIS kaya lo aja gak mampu hentikan mereka. Ini yang lo bilang berguna?” Ucap Rion mengembalikan kata-kata yang di ucap Argeo dilapangan tadi. Rion kemudian pergi meninggalkan Argeo dengan keterdiamannya. Bukannya Argeo tidak mau membantu, Sebenarnya dia juga sudah lelah dengan permasalahan yang dibuat anak-anak geng itu. Tapi, untuk berurusan dengan ketuanya adalah hal yang rumit.

Selasa, 13 Agustus 2024

BAB 2. Kena Masalah

Motor yang dikendarai Andre dan Rion bergerak cukup lincah di jalan raya. Andre yang sudah terbiasa berkendara cepat dengan lihai menyalip mobil dan motor, mengabaikan umpatan dari para pengendara yang disalipnya. Seiring dengan motornya yang melaju, sebanyak itu pula peraturan berkendara yang mereka langgar. Apa saja? Mari kita jabarkan… Pertama, mereka adalah pelajar yang rentang usianya 15 sampai 17 tahun. Yups, masih dibawah umur untuk mengedarai kendaraan dijalan raya sesuai dengan Peraturan Lalu Lintas Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mengisyaratkan bahwa anak-anak dan pelajar yang berusia dibawah 16 tahun dilarang keras mengendarai sepeda motor. Apalagi mereka belum cukup umur untuk memiliki SIM. Kedua, mereka tidak memakai pelindung kepala, yups helm. Rion tidak memakai helm karena lupa mengambilnya di bawah meja belajarnya. Tapi, Andre? Dia sengaja, karena ingin menikmati angin kencang yang menerpa wajah dan rambutnya. Untuk tebar pesona katanya. Ketiga, mereka berkendara melebihi batas kecepatan sehingga berulang kali menerobos lampu merah. Rion sudah mengingatkan Andre dari jauh ketika lampu lalu lintas beranjak dari kuning menuju merah. Tapi, ya, Andre tetap kukuh. Takut pintu gerbang ditutup. Selama perjalanan tidak henti-hentinya mulut Rion melafalkan doa. Cara Andre yang berkendara 80KM/Jam benar-benar membuat Rion takut dengan kematian. Dipersimpangan menuju sekolah, Andre dan Rion melihat Pak Mukhlis satpam sekolah sudah berjaga dipintu gerbang dan hendak menutupnya. Ketegangan terjadi antara Andre dan Rion. “Paaaak! Tunggu Kitaaa!” Teriak Andre. Urusan kedua masalah maut!. Dengan menambah kecepatan, motor Andre melaju kencang bahkan setengah terbang ketika melewati Pak Mukhlis. ‘Ckiiiiit’, mereka sukses smemakirkan motor walaupun hampir menabrak seorang siswi yang sedang berjalan. “Astagfirullah ! Gila lu ya Ndre !” ucap Rion dengan emosi sambil memukul punggung Andre “Aaaw!” ringis Andre, “ya maaf. Tapi berhasilkan tepat waktu?” jawab Andre dengan wajah tengilnya sambil mengangkat jari jempolnya. Mereka pun berjalan sambil setengah berlari dari parkiran ke kelas. Kejadian motor terbang itu disaksikan oleh siswa-siswi yang berada disana, termasuk seorang remaja berpakaian OSIS yang melihat kejadian itu. dia menatap tajam kemudian memiringkan senyumya. Lalu beranjak masuk ke kelas-kelas menyuruh siswa-siswi segera ke lapangan untuk melakukan upacara bendera. Sesampainya di kelas, Andre dan Rion segera meletakkan tas mereka dan mengambil topi. Namun, raut tercengang tampak di wajah Rion. “Lo kenapa?” Tanya Andre Dengan tatapan horror, Rion menoleh kearah Andre, dan berkata “ Topi gue ketinggalaan!” Rion merasa pasrah. Pastinya dia harus mengikuti upacara bendera dengan barisan tersendiri dan tentunya dibekali dengan hukuman dari OSIS yang sering tidak ada hati nuraninya agar siswa-siswi yang melanggar jera. Panas matahari terasa menjalar disekujur tubuh, bulir-bulir keringat menghujani para peserta upacara yang berbaris mengahadap cahaya matahari. Topi yang mereka gunakan tidak mampu menghalau sinar matahari yang menyilaukan mata. Tatapan tidak bersahabat tampak ditujukan kepada peserta yang berbaris di daerah teduh. Pohon-pohon rindang yang tumbuh subur dibelakang mereka mengalau sengatan matahari dan memberikan suasana sejuk. Rion yang berada di tengah dua kubu memperhatikan mereka dengan keringat dingin. Ikut berlarut dalam perang dingin itu. “Kalau uapacara ya fokus! Kepala jangan noleh kemana-mana” Tergur Pak Yanto dari belakang Rion. Rion terkejut lalu mengiyakan teguran dari Pak Yanto “I-iya Pak. Maaf” Sempat nafas Rion terhenti karena terkejut dengan Pak Yanto yang sudah ada dibelakangnya. Tatapannya tajam memperhatikan seluruh siswa yang upacara lalu berkeliling sembari menegur siswa yang tidak fokus atau rapi dalam barisan. Jangan lupa tongkat bambu yang selalu dia bawa, benar-benar menambah kesan horror seorang guru yang terkenal killer di SMA Satu Nusa itu. Rion menegakkan tubuhnya, kembali fokus dalam khidmatnya upacara bendera. Walau sebenarnya dia merasa malu karena hanya dia sendiri yang berada di barisan berbeda. ‘Dimana para siswa yang biasanya tidak lengkap atributnya ketika upacara?’ begitu pikirnya. ‘Semoga saja hukumannya gak aneh-aneh Ya Allah’ ratapnya dalam hati.

Sabtu, 10 Agustus 2024

BAB 1. Pagi Yang Genting

Pada suatu pagi yang damai di kota Jakarta, dimana sang surya mulai menampakkan diri bersama orang-orang yang telah bangun dan sibuk belalu-lalang mengejar waktu pagi yang genting mengingat hari ini adalah hari senin. Para pekerja yang bertaruh waktu memecah jalan ibu kota dengan kendaraan pribadinya atau kendaraan umum bahkan sebelum fajar menyingsing, bapak-bapak penjual koran yang menawarkan korannya disela lampu merah, para pedagang yang menjual aneka makanan untuk disantap sebagai sarapan, serta anak-anak sekolah yang mengejar waktu untuk melaksanakan upacara bendera, saling bersaing diantara kemacetan yang menjadi hal biasa bagi masyarakat disana. Namun, diantara hiruk pikuk dunia perkotaan itu, seorang remaja masih setia menikmati bunga tidurnya tanpa mengidahkan panggilan sang ibu yang berulangkali membangunkannya diluar kamar beserta suara ketukkan pintu yang kini terdengar tidak santainya. Tuk tuk tuk tuk Tuk tuk tuk tuk! Suara pintu kamar diketuk “Nak bangun nak! Udah siang ini. Nak, ayo bangun!” tuk tuk tuk tuk! Suara panggilan sang ibu turut mengiringi ketukan pintu.Namun, tidak ada tanda-tanda dari si anak bangun. ‘Haaaa’ sang ibu menghela nafas, tertanda menyerah untuk membangunkan anaknya “Ya Allah, Ya Allah, sabar. Kenapa susah sekali bangunin anak ini” Tidak lama kemudian terdengar suara motor di depan rumah mereka. Klakson dibunyikan sekali lalu si pengendara turun dari kijang besinya dan berjalan menuju kediaman sederhana itu. “Assalammu’alaikum, bunda, Rion! “ Teriakan dari seorang remaja yang bernama Andre Wijaya, sahabat dari Rion. “Andre masuk ya !” tanpa menunggu jawaban dari empunya rumah, Andre berjalan memasuki rumah dan menuju ruang tengah. Terlihat Bu Diana, ibunya Rion sedang berdiri di depan pintu salah satu kamar dengan raut pasrah. “Bunda” Sapa Andre dengan lembut. “Eeh, nak Andre. Kapan datangnya?!” Tanya Bu Diana setelah sadar dengan kehadirannya. Senyuman bahagia terpatri di raut wajahnya. Bu Diana merasa legah, karena biasanya Andre mampu membangunkan anaknya yang suka telat bangun itu. “Baru aja Bunda. Rion mana Bunda? Tanya Andre “Hmmm. Kayak kamu gak tau aja, itu masih tidur Rionnya” Jawab Bunda sambil menatap pintu kamar sang anak. “nak Andre, tolong bangunin ya. Bunda udah coba bangunin dia dari tadi.” Pinta Bu Diana. “Siap Bunda! Kalau urusan bangunin Rion serahkan saja pada ahlinya. Hehehe! Jawab Andre dengan cengiran sambil berpose hormat. “Ya udah. Bunda ke ruang jahit dulu ya” Ucap Bu Diana lalu beranjak menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pesanan jahitan. Andre mengangguk lalu mendekati pintu kamar. Dipegangnya pegangan pintu kamar sahabatnya itu. ‘Ceklek’ suara ganggang pintu kamar terbuka ‘Lah gak dikunci ternyata. Apa Bunda gak ngecek tadi ya’ gumam Andre dalam hati. Andre pun membuka pintu kamar sepenuhnya, lalu terlihatlah Rion yang masih terlelap namun hal itu membuat Andre mengucapkan salah satu kalimat thayyibah merasa takjub dengan pemandangan yang dilihatnya. “Masyaallah, Riooon!” ucapnya Bagaimana tidak, dilihatnya sahabatnya itu tertidur dengan menggunakan pakaian solat lengakap diatas sejadah sembari memegang Al-Qur’an yang masih terbuka. Punggung dan kepalanya dia sandarkan ke pinggiran tempat tidur dengan mata terpejam. Perlahan Andre mendekati sahabatnya itu lalu mengguncang pelan tubuhnya dan memintanya bangun. Niatnya untuk membangunkan Rion dengan brutalnya seketika menghilang. Sepanjang sejarahnya membangunkan Rion, baru kali ini dia melihat Rion tertidur ketika sedang beribadah. “Yon, Yon, Rion. Ayo bangun!” ucap Andre sambil berusaha membangunkan Rion. Dua kali percobaan, akhirnya Rion menunjukkan tanda-tanda bangun. Matanya perlahan terbuka, dan dilihatnya sahabatnya Andre yang sudah siap dan rapi untuk sekolah. ‘Hoaaaaaam’ Rion menguap sambil menutup mulutnya “Ya Allah ngantuk bangeeeet” uacapnya dengan suara serak, lalu memejamkan matanya lagi. “Ya Allah, yon. Lo masih ngantuk? Udah siang ini, jam setengah tujuh! Gue udah siap, lo masih molor. Inget, inget kita mau upacara!” ucap Andre dengan geregetnya. Seketika mata Rion yang awalnya masih terbejam langsung terbuka sempurna. “Ya Allah, gue lupaaaaa!” teriak Rion. Rion segera bangun dari sandarannya, meletakkan Al-Qur’annya di atas meja belajar, melepaskan perangkat solatnya asal dan langsung menyambar handuk untuk mandi. “Yoooooon! Gesit ya….! Gue tinggalin lu kalau lama!” Teriak Andre, menambah kepanikan sahabatnya itu. Andre keluar dari kamar Rion menuju ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan kepala dan gelak tawa. Merasa lucu dengan tingkah sahabatnya itu. Dalam perjalanannya kesana, dilihatnya dua tempat makan di atas meja tamu. Ya , itu adalah sarapan sekaligus bekal yang disiapkan Bu Diana untuk Rion. Rion jarang jajan di sekolahnya dan lebih memilih memakan bekal yang disiapkan ibunya. Terkadang Andre merasa iri dengan keharmonisan keluarga Rion. Meskipun berjuang sendiri sebagai orang tua tunggal Bu Diana tetap tidak lupa memperhatikan Rion disela kesibukannya. Sementara keluarganya, entahlah. Ayah dan Ibunya jarang ada di rumah karena sibuk dengan pekerjaan mereka. Jangankan menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu sekeluarga, menyempatkan untuk sarapan bersama saja tidak pernah. Tatapan yang mulanya penuh dengan senyum tawa itupun berubah dengan kesedihan. Tidak terasa air mata mengalir di sudut matanya. Segera Andre menghapus air mata itu lalu mengambil nafas, berusaha tabah dengan apa yang terjadi dengan keluarganya. Sepuluh menit berlalu, Rion pun sudah siap dengan seragam sekolah, sepatu di tangan kiri, dan tas ransel di bahu kanannya. Dengan sedikit berlari ke ruang tamu, Rion berteriak memanggil Bundanya. “Bundaaa! Bunda! Rion dan Andre mau berangkat sekolah” Bu Diana datang menghampiri mereka. Namun, terdapat satu kotak makan ditangannya. “Iya nak” Jawab Bu Diana. Bu Diana kemudian menyerahkan kotak makan itu ke Andre. Andre terlihat terkejut dan antusias menerimanya. “Loh, Bunda ini untuk Andre?” tanyanya “Iya, Bunda masak banyak tadi. jadi Bunda siapkan juga buatmu” jawab Bu Diana dengan senyumnya. Andre pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih ke Bu Diana . “Terima kasih, Bunda” “Iya, sama-sama. Jangan lupa dimakan ya nak” jawab Bu Diana Bu Diana kemudian mengambil dua kotak makan yang ada di atas meja tamu lalu memasukkannya ke dalam tas Rion. “Makan yang banyak ya, nak” pesan Bu Diana “Siap Bundaaa!” Jawab Rion Rion dan Andre kemudian berpamitan kepada Bu Diana. Tidak lupa mereka mencium tangannya dan Bu Diana membalas dengan mengusap kepala mereka. “Hati-hati dijalan!” Pesan Bu Diana “Iya, Bunda!” Jawab mereka serempak. Andre dan Rion kemudian menaiki motor dan bergabung dengan pengendara lainnya membelah jalanan ibu kota yang padat.

PROLOG

Eri dan Rion adalah saudara kembar yang terpisah dari sejak bayi. Karena faktor ekonomi Bu Diana selaku orangtua tunggal si kembar terpaksa melepaskan kepergian putra pertamanya Eri untuk diadopsi oleh sepasang suami istri yang membantunya melunasi hutang dari seorang renternir. Perpisahan Eri dan Rion berlangsung lama, hingga keduanya beranjak SMA barulah perlahan kenyataan terungkap dari suatu ketidaksengajaan. Dilain sisi, kehidupan yang mereka jalani sangat berbeda. Eri di Bandung dengan kehidupan yang serba ada bersama ketiga adiknya karena kekayaan dari keluarga Areez selaku keluarga yang telah mengadopsinya, sedangkan Rion di Jakarta hidup dengan pas-pasan dari usaha menjahit ibunya dan kerjanya di malam hari dengan membantu penjual nasi goreng. Tidak jarang Rion mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari teman-teman sekolahnya yang mana SMA yang dia masuki termasuk sekolah menengah ke atas. Namun, dia akan melawan dan tidak pasrah saja ketika mendapatkan perlakuan tersebut dan karena itu juga dia sering terjaring BK sehingga poin pelanggarannya di sekolah semakin bertambah. Namun itu ditutupi dengan prestasi-prestasi yang dimilikinya. Eri yang mengetahui fakta bahwa ibu dan saudara kandungnya dalam keadaan tidak baik-baik saja tentu tidak diam. Dia meminta izin kepada kedua orang tua angkatnya untuk pergi ke Jakarta menemui ibu dan saudara kandungnya. Seperti apa kehidupan baru yang akan mereka jalani? Tertanda Tangan: @Ruang_Karya

BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU

Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...