Ruang Karya
Senin, 19 Agustus 2024
BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari
meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya telah selesai menerikkan diri.
Bersamaan dengan langit yang mulai temaram dan guratan senja yang mulai datang,
para siswa berhamburan untuk pulang setelah bel sekolah dibunyikan. Mereka
saling beradu untuk pergi meninggalkan area sekolah menggunakan kendaraannya
ataupun hanya berjalan kaki. Dua orang satpam yang bertugas terlihat sibuk
menertibkan siswa-siswa di pintu gerbang dan juga para pengendara yang berlalu
lalang agar berhati-hati dalam melintasi jalan karena bertepatan dengan jam
pulang. Beberapa siswa tampak berdiri di sudut kiri gerbang bersamaan dengan
pengendara berjaket hijau yang datang menjemput mereka sesuai notifikasi pesanan
di aplikasi. Berbeda dengan banyaknya siswa yang pulang karena tidak ada lagi
kegiatan di sekolah, beberapa dari mereka memilih untuk menetap sejenak
dikarenakan adanya ekskul yang sedang berlangsung di hari itu. Ada juga yang
pergi menuju perpustakaan, mushola, atau hanya di kelas menyelesaikan pekerjaan
yang tertunda. ‘You have lost!’ seruan kekalahan dari game yang dimainkan
melalui ponsel bergema di kelas yang tersisa dua orang itu. Erangan terdengar
dari si pemain yang tampak emosi karena timnya kalah telak dari tim lawan yang
permainannya lebih kuat dan terkontrol. “Aaarggh! Payah banget tim gua. Senggol
dikit aja langsung kalah. Hadeeh” ucapnya sambil meggaruk kepalanya dengan
frustasi. Wajah tegang yang tadinya larut dalam permainan itu kini digantikan
dengan raut masam. Bukan hanya karena timnya kalah yang membuat moodnya hancur
tapi juga hukuman yang harus ditanggungnya dari taruhan permainan yang dia
sepakati sebelumnya. “Mana harus neraktirin Tomi sama Timnya lagi besok. RIP
dompet gue!” ucapnya sambil merebahkan kepala dan tangannya di meja. Dia
kemudian mengalihkan atensinya kepada temannya yang sedari tadi sibuk menyalin
catatan materi tanpa peduli dengan dirinya yang sedang berkeluh kesah. “Ri, lo
gak ada kasiaannya sama gue?” Tanyanya. “Gak” ucap orang itu yang tidak lain
adalah Eri dengan cepat, singkat, dan padat. Menurutnya apa yang terjadi adalah
resiko. Sebelumnya dia sudah memperingatkan temannya itu kalau mau main ya main
aja, gak usah pake taruhan. Kan ujung-ujungnya dia harus kesusahan sendiri.
“yeee, dasar kulkas” umpatnya dengan suara kecil. “Gue denger Vano!” ucap Eri
dengan sedikit keras sembari membalikkan halaman catatan. Keheningan pun kembali
diantara keduanya. Ya, dua orang siswa itu adalah Eri dan Vano yang masih betah
tinggal di kelas. Sebenarnya hanya Eri saja yang mau tinggal sebentar karena
menyalin catatan materi yang tertinggal ketika dia dispen tadi. Sedangkan Vano,
dia terlalu bosan untuk cepat pulang ke rumah jadi dia memilih menemani Eri di
kelas secara buku yang dipinjam Eri buku catatannya. Melihat Eri yang enggan
membuka suara lagi membuat Vano semakin bosan. Hanya suara goresan pena di
kertas yang terdengar. Vano kemudian membuka tasnya dan mengambil sebatang
coklat lalu memakannya. ‘Memang bener, coklat paling bisa balikin mood’ ucapnya
dalam hati didukung dengan ekspresinya yang dibuat-buat sangat menikmati.
Terhitung ada 10 batang coklat dengan berbagai merek dalam tasnya. Hampir setiap
hari dia mendapatkan coklat bahkan bisa lebih banyak dari hari ini. Sebenarnya
coklat-coklat itu untuk Eri yang diletakkan penggemarnya di meja ketika kelas
sepi. Lalu ada juga yang dititipkan langsung kepadanya untuk diberikan pada Eri.
Tapi, Eri tidak pernah mau menerimannya jadi dia pikir untuk dia saja. Lumayan,
coklatkan mahal. Tapiii bakal berkah gak ya? Pikirnya. “Ri, coklat dari fens lo
makin lama makin numpuk di gue. Lo gak mau ngambil barangkali satu” Ucapnya
sembari terus memakan coklat itu. “Buat lo aja” Ucap Eri tanpa menoleh ke arah
Vano. “ Ya, gue takut aja nanti kena karma. Secara ni coklat harusnya sampe ke
lu. Malah masuk perut gue. Nanti gue sakit perut gimana?” lanjutnya sambil
memperhatikan ekspresi Eri yang terlihat sangat fokus dengan buku catatannya.
“Gak bakalan. Bukan pertama kali ini aja lo makan tu coklat juga” Ucap Eri
meyakinkan Vano “He, he. Oke deh” Ucap Vano dengan cengirannya. Sambil memakan
coklatnya, tiba-tiba Vano teringat sesuatu. Ya, dia baru ingat Siska bilang Eri
sedang ada masalah ketika mereka tidak sengaja bertemu di kantin tadi siang. “
Oh ya Ri, Siska bilang lo lagi ada masalah ya?” Tanya Vano dengan nada yang
serius. Dia penasaran masalah apa yang sedang diresahkan teman kulkasnya itu
sampai-sampai perlu waktu buat nenangin diri. Siska juga tidak menyampaikan
secara rinci, Dia hanya bilang ‘temen lo lagi ada masalah. sampe galau berat
dia’ kenang Vano mengingat ucapan Siska tadi. Pertanyaan yang dilontarkan Vano
membuat Eri menghentikan aktivitasnya sejenak lalu kembali melanjutkan
tulisannya. Satu tarikan nafas diambilnya sebelum membuka suara. Ternyata dia
masih dilema dengan kejadian tadi siang. “Ada orang yang mirip gue banget di
media sosial” ucapnya. Vano yang sudah penasaran dari tadi merasa heran
mendengar penuturan temannya itu. “Gimana bisa Ri? Coba mana gue lihat!” Ucapnya
tidak percaya. Eri kemudian mengambil ponselnya dan membuka akun media sosial
yang ditemukannya tadi lalu diserahkan kepada Vano. “Waaah! Gila! Persis kaya lo
Ri!” Ucapnya dengan keterkejutan luar biasa. Tangannya bergerak lincah menggeser
foto-foto atau postingan lainnya di akun itu. “Dia gak nyolong postingan akun lo
kan, Ri?” lanjutnya memastikan. “Gak, itu murni punya dia semua” jawab Eri
meyakinkan Vano “dan lo tau Van? Tanggal lahir kita sama” Lanjutan kalimatnya
itu sukses membuat Vano menoleh dengan raut tidak terduga. “Dia orang mana?”
tanya Vano “Jakarta. Kalau dilihat dari seragamnya, dia sekolah di SMA Satu
Nusa” jawab Eri sembari memengang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Vano
yang mendapatkan penjelasan itu kemudian mengangguk. “Gue bakal bantu lo Ri”
Ucapnya dengan penuh keyakinan. “hah? Maksud lo apa?” tanya Eri dengan
kebingungan. “Gue punya banyak kenalan di Jakarta. Gue bakal minta bantuan
mereka buat nyelidikin si pemilik akun ini. Kita pastiin, dia kembaran lo atau
memang hanya kebetulan mirip lo aja” Ucap Vano dengan penuh semangat. Eri
berpikir sejenak mendengar tawaran bantuan dari temannya itu. Kalau dipikirkan,
dia juga tidak tahu harus bagaimana memastikannya sendiri secara jarak Bandung
dengan Jakarta cukup jauh. Ini juga masih semesteran sekolah bukan libur
semester. Kalau ke Jakarta secara mendadak, apa alasannya kepada orang tuanya?
Pasti tidak diijinkan. Eri pun setuju dengan tawaran temannya itu dan berterima
kasih padanya. “Thanks ya Van. Lo udah mau bantuin gue” Ucap Eri dengan tulus.
“Sama-sama. Santai aja” Jawab Vano sembari mengembalikan ponsel Eri. “BTW lo
udah selesai belum nulisnya?” Tanya Vano “ Anak-anak basket udah kelar tuh
ekskulnya” lanjutnya. “Udah. Ni buku lo. Thanks udah minjemin” Jawab Eri sembari
mengembalikan buku Vano. Vano pun mengiyakan ucapan terima kasihnya Eri. Eri
kemudian membereskan perlengkapannya ke tas sekolah. Lalu keduanya beranjak
meninggalkan kelas dan siap untuk pulang ke rumah. Kali ini Eri menebeng ke
Vano. Pak Jaka, supirnya, tidak bisa menjemputnya karena sedang mengantar ketiga
adiknya jalan-jalan sore. Baru saja sampai di tururan tangga lantai dua, Vano
dan Eri menghentikan langkah mereka. Vano tersadar bahwa kunci motornya tidak
ada di saku jaketnya. “Wah Ri, kunci motor gue ilang!” paniknya. “Yah gimana sih
lo. Lo kan tadi naroknya di atas meja. Gak lo ambil?” Ucap Eri mengingatkan
Vano. “Oh iya! Gue lupa. Tungguin bentar ya, gue ambil dulu” Ucap Vano kemudian
berlari menuju kelasnya yang ada di lantai tiga. Eri melanjutkan langkahnya ke
arah depan ruangan musik yang ada tempat duduk disana. Ya, dia ingin duduk
disana sambil menunggu Vano mengambil kunci motornya. Pintu ruangan musik yang
cukup luas itu tampak setengah terbuka. Disaat Eri melalui pintu itu, tiba-tiba
sayup-sayup terdengar bunyi dentingan piano yang dimainkan dengan merdu. Eri
menolehkan kepalanya dan terlihat ada seorang siswi yang sedang bermain piano.
Dia tidak bisa melihat wajahnya karena siswi itu memunggunginya. Alunan piano
yang memainkan lagu River Flows In You karya Yiruma benar-benar indah dan
menenangkan siapaun yang mendengarnya. Eri menjadi terlarut dalam permainan
piano itu dan memejamkan matanya dengan senyuman.
Hingga lagunya selesai dan Eri membuka matanya, dia terkejut karena siswi yang
tadi bermain piano sudah tidak ada lagi disana. ‘kemana dia?’ begitu pikirnya.
Kalau siswi itu sudah pergi harusnya pasti melewatinya karena posisinya ada di
depan pintu. “Lo kenapa Ri? Kayak kebingungan gitu?” Tanya Vano begitu sampai di
sana dan melihat Eri tampak kebingungan sendiri di depan ruang musik. “ Ah,
enggak. Nggak apa-apa” jawab Eri di tengah-tengah kebingungannya. Dia tidak
berkata jujur karena tidak ingin temannya nanti takut mendengar apa yang
dialaminya tadi. “Yaudah yuk cabut” Ucap Vano mengajak Eri segera pergi dari
depan ruang musik itu. Sebenarnya ada rasa sedikit meremang ketika dia sampai di
sana. Jujur dia takut, tapi kalau dia tunjukan, bisa kalah keren dia dengan
teman kulkasnya itu. Eri dan Vano kemudian meninggalkan sekolah dengan
menggunakan motor. Lalu lintas terlihat cukup ramai dengan orang-orang yang
menikmati senja yang menjinggakan langit.
Sabtu, 17 Agustus 2024
BAB 4. SUATU KEBETULAN
Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai
angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu menerbangkan dedaunan
kering dari dahannya juga benda-benda ringan yang dillewatinya. Rasa dingin yang
datang terasa menusuk kulit sebelum akhirnya rintikan air dijatuhkan dari langit
Hujan yang mulanya hanya gerimis kini mengalir deras membentuk riakan
bergelombang dan menggenang di tanah. Suaranya yang meriuh memberikan ketenangan
dan kedamaian terutama bagi para pencintanya, pluviophile. Seorang remaja tampak
sedang menikmati pemandangan itu. Dia berdiri didepan jendela yang dibiarkannya
terbuka, membiarkan atmosfer diruangan berubah juga merilekskan dirinya dari
permasalahan yang membuat perasaannya kalut. Senyum merekah terpatri di wajahnya
yang tampan namun terlihat lelah. Pakaiannya terlihat tidak serapi tadi pagi.
Dasi yang dilonggarkan beserta dua kancing seragam yang dilepaskan. Almamater
kebanggaan yang bertuliskan OSIS diletakkannya sembarangan, dan jangan lupa
kedua lengan seragam yang digulungkannya setengah tangan. Sudah cukup lama hujan
menghiburnya namun dia belum bisa menenangkan diri. Dia masih tidak percaya
dengan apa yang ditemukannya tadi. Suatu kebetulan yang cukup berhasil
mengguncang jiwanya dibandingan dengan rumitnya pekerjaan sebagai ketua OSIS SMA
Galaksi yang sangat menyita waktu. ‘kriet’ pintu ruangan tebuka menampilkan
seorang siswi yang juga mengenakan almamater OSIS sepertinya lengkap dengan
papan nama yang bertuliskan Siska Ariyanti. Dilihatnya sang ketua sedang sibuk
dengan dunianya sendiri tanpa menyadari banyak pasang mata yang menatapnya
dengan penuh kekaguman. Ya, para penggemar yang hanya bisa menunjukkan kekaguman
mereka dari jauh karena sang idola tidak mudah didekati dan juga bersikap
dingin. “Lo masih mikirin hal tadi, Ri?” tanyanya sembari meletakkan beberapa
berkas yang terjilid rapi diatas meja. Teguran Siska berhasil menyadarkannya
dari lamunan. “Hmm” dehaman terdengar sebagai jawaban dari pertanyaann yang
dilontarkan. “Eri, Eri. Itukan cuma filter aja buat seneng-senengan. Jangan
terlalu dipikirin. Lagian lo pernah denger gak kalau katanya manusia itu punya
tujuh kembaran di dunia ini. Mungkin orang yang mirip lo itu salah satunya”
Jelas Siska kepada ketua yang bernama lengkap Eri Hatta Areez karena jengah
melihat kegalauannya. Menurutnya lebih baik Eri bersikap dingin dan tegas
seperti biasanya dibandingkan dia menunjukkan sisi galaunya itu. Karena tidak
tahu pasti apa yang dia pikirkan dan apa yang dia lakukan selanjutnya. Eri
tampak memutarkan matanya sembari menghembuskan napas. Dia kemudian berjalan
menuju meja kerjanya dan mulai membaca berkas-berkas yang dibawa temannya itu.
“Hmm proposalnya udah oke. Besok udah bisa disebarin” ucapnya sebelum
menandatangani dan mengecap proposal pengajuan bantuan dana untuk kegiatan di
sekolah mereka. “Oke. Besok gue, Ranti, Geo, dan Bima bakal temuin kliennya.
Doain semoga mereka setuju” Ucap Siska sebelum meninggalkan ruangan dan
meninggalkan Eri dengan kegalauannya lagi. Eri kemudian pergi ke toilet dan
membasuh mukanya. Dipandangnya wajahnya yang basah di cermin. Ingatannya di jam
istirahat pertama tadi kembali terputar dipikirannya. Dia tidak menyangka bahwa
akan menemukan sesorang yang sangat mirip dengan dirinya di media sosial.
Awalnya Eri menerima pesan messenger dari temannya Vano yang isinya ternyata
link filter untuk mencari orang yang mirip dengannya. Tidak lupa Vano juga
mengirimkan hasil pencarian filter miliknya yang menyatakan bahwa dia 78% mirip
artis Hollywood Justin Bieber. ‘Riiii! Gue katanya mirip artiiis! Mana langsung
ada akunnya lagi’ ‘lo coba deh dijamin seruuuu filternya’ begitu kata-kata yang
dituliskan Vano di messengernya itu. Melihat Eri yang berhenti dari aktivitasnya
membuat atensi Siska dan Ranti yang sedang disibukkan merevisi proprosal menjadi
terfokus kepada Eri yang terlihat tersenyum dengan sedikit tertawa. “Lo kenapa
Ri? Tumben amat senyum sampe ketawa gitu” Tanya Siska sembari mengambil jus
didepannya dan meminumnya. “Nih, si Vano ngirimin gue filter. Katanya bisa
nemuin orang yang mirip sama kita. Ada-ada aja tuh anak” Jawab Eri sembari
mengontrol ekspresinya semula. “Wih, keren tuh! Gue mau coba ah, siapa tahu
kembaran gue artis terkenal!” Ucap Ranti dengan semangatnya “Kirimin linknya ke
gue dong Ri!” lanjutnya meminta Eri membagikan link itu. “Gue juga dong!” Ucap
Siska yang tidak kalah semangatnya. Siska dan Ranti kemudian sibuk memfoto diri
mereka melalui filter yang mereka gunakan dan ya hasil yang ditunjukkan
benar-benar membuat mereka senang kegiarangan. “Waaaah! Gue mirip Yoona SNSD!”
Ucap Ranti heboh “Sumpah gak nyangka gue mana 82% lagi kemiripannya. Fiks pulang
ini gue mau kasih tau sama nyokap bokap gue kalau gue ternyata punya kembaran!”
Lanjutnya sambil memeluk dan menatap ponselnya berulang kali. “Waaah gue katanya
mirip Irene Red Velvet, Ti. Mana kemiripannya 86% lagi. Fiks kita sebenarnya
punya kembaran!” Ucap Siska yang tidak kalah hebohnya. Eri menatap kedua rekan
sekaligus temannya itu heboh dengan filter sampai geleng-geleng kepala. Mimik
wajah tegas yang awalnya ditunjukkannya kembali mencair dan penuh tawa. Dia
tidak menyangka melihat orang yang lagi halu menyenangkan juga ya. Siska yang
tersadar dengan perubahan ekspresi Eri sempat terpesona. Namun dia segera
mengontrol dirinya kembali setelah mendapat tatapan tanya dari Eri. “Kenapa?”
tanya Eri padanya “Ga-ak, gak apa-apa kok” Jawabnya sambil pura-pura mengalihkan
perhatiannya lagi ke ponsel “Eh, Ri. Lo cobain deh pake filternya. Seru loh! Nih
liat kita berdua dapet kembarannya diluar ekpetasi banget!” Ucap Ranti sambil
menunjukkan ponselnya. “Ngapain gue pake begituan. Mending lihat yang aslinya
aja udah ganteng dari lahir” Ucap Eri mencoba mengalihkan topik. “Gak, gak, gak!
Pokoknya lo harus coba!” Ucap Ranti sambil mengambil ponsel yang diletakkan Eri
disampinya. “Ni ya gue bantuin cara pake filternya” Ucap Ranti Ranti kemudian
mengarahkan ponsel itu kewajah Eri menggunakan filter yang sudah terbuka.
“Senyum Ri!” ucap Siska yang mendukung tindakan Ranti ‘Cekrek’ kamera berhasil
mengambil foto Eri yang tersenyum. Kemudian hasil pencarian mulai terlihat.
Ranti yang melihat hasil pencarian itu sontak terkejut. Mulutnya terbuka dan
matanya memancarkan tatapan tidak terduga. Dia tidak menyangkan bahwa ada orang
lain yang sangat mirip dengan Eri bahkan persentase kemiripannya 100%! “Wah
gila! Ri coba liat ini” Ucap Ranti sambil memberikan ponsel itu ke Eri kembali.
Eri tampak terkejut dan melihat dengan teliti gambar di ponselnya. Siska yang
penasaran juga ikut melihat dan ya ekspresinya tidak kalah terkejut dengan Eri
dan Ranti. “Wah! Ini mah bukan mirip lagi tapi beneran kayak lo Ri! Lo punya
kembaran?” Tanya Siska kepada Eri dan dijawab gelengan olehnya. Sungguh dia
tidak tahu dan karena kebetulan ini dia menjadi berpikir yang aneh-aneh. Apa
jangan-jangan dia bukan anak kandungnya Ayah dan Ibunya? secara kalau
diperhatikan wajahnya sama sekali tidak mirip dengan ketiga adiknya. Wah sungguh
memusingkan kepala! Eri kemudian mengklik akun yang tertera di gambar itu.
Dibacanya dengan teliti siapa pemilik akun yang mirip dengannya ini. Mereka
memang mirip atau akun itu adalah akun palsu yang sengaja memakai foto-fotonya.
“Rion Mahendra, asal Jakarta, lahir 18 Maret 2008” Ucap Eri dengan suara pelan
diakhir kalimatnya. Eri terkejut untuk kedua kalinya. Tanggal lahir yang tertera
di akun itu sama dengannya! dan juga foto-foto yang diunggah juga murni foto
pemilik akun itu. Tidak ada yang membuktikan bahwa foto-foto dari akunya sendiri
dicuri. Tanpa terasa Eri meneteskan air matanya, dia tidak tahu harus berbuat
apa. Perasaannya campu aduk, kepalanya terasa penuh membuatnya berspekulasi
sendiri. Jika benar dirinya memiliki kembaran, kenapa orang tuanya tidak
memberitahukannya? “Ri, Ri, Ri! Lo tenang!” Ucap Siska dan Ranti bersamaan
setelah mereka melihat suasana hati Eri yang tampak kacau. “Tenang Ri. Ini cuma
filter. Jangan lo masukin ke hati” Ucap Siska sembari memberikan minuman kepada
Eri. Eri mengabiskan minumannya hingga tandas. Namun perasannya masih belum
membaik. “Sorry, bisa tinggalin gue sendiri?” Ucap Eri kepada Siska dan Ranti
Siska dan Ranti pun saling menatap dan setuju untuk meninggalkan Eri sendiri di
Ruang OSIS itu. Melihat kondisi Eri yang masih syok dan tidak strabil membuat
mereka tidak yakin bahwa Eri masiih bisa melanjutkan diskusi bersama mengenai
proposal mereka. “Oke, gak masalah. Lo tenangin diri aja dulu. Tentang
proposalnya, Gue sama Ranti aja yang lanjutin revisinya. Lo tinggal baca-baca
lagi aja siapa tau masih ada yang kurang” Ucap Siska sembari menyuruh Ranti
untuk cepat beranjak dari kurisnya. “Thanks” Ucap Eri kemudian menenggelamkan
kepalanya dilipatan tangannya.
Kamis, 15 Agustus 2024
BAB 3. GENG PEMBULI
Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan
beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk duduk sebentar. Rion
menghela nafas, cukup lelah untuk berdiri selama 30 menit lebih meski dia
berdiri di tempat yang tidak telalu panas, dan dia harus menunggu lagi karena
hukumannya baru akan dimulai. Pak Yanto dan salah satu anggota OSIS kini sudah
berada dihadapannya. Dengan segala kesabaran dan ketabahan, Rion mendengarkan
ceramah dari Pak Yanto mengenai pelanggaran yang dia lakukan. Tidak hanya
pelanggaran hari ini, Pak Yanto juga mengungkit masalahnya yang lain yang
menurutnya merugikan. Padahal aslinya Rion juga tidak bermaksud melakukan
kesalahan itu, termasuk juga hari ini. Teguran itu keluar masuk ke telinganya
dan Rion hanya bisa menunduk dan terkadang mengangguk mengiyakan untuk tidak
berulah lagi. “Ya sudah, jangan ulangi lagi” Pak Yanto mengakhiri ceramah
panjangnya.”Kamu, berikan hukumannya” perintah Pak Yanto kepada anak OSIS
disampingnya kemudian pergi menuju kantor guru. Anak OSIS itu kemudian melangkah
mendekati Rion sambil bertepuk tangan pelan. “Wah, wah, wah, Rion, Rion. Lo
lagi, lo lagi. Kayaknya gak bosen-bosennya ya lo ketemu gue” sembari
menyunggingkan senyumnya. Anak OSIS itu adalah Argeo Liem, anak salah satu
donatur sekolah dan menjabat sebagai ketua OSIS bidang kedisiplinan di sekolah
mereka. Mungkin benar kata orang hari apes gak ada di kalender. Entah kenapa
setiap kali Rion sedang bermasalah Argeo selalu ada dan tentu saja memberikan
hukuman yang terkadang tidak sebanding dengan pelanggaran yang dilakukannya.
Mungkin memberi hukuman kepada Rion sudah menjadi kegemaran bagi Argeo saking
seringnya dia melakukan pelanggaran dan Argeo menjadi perwujudan nyata malaikat
maut bagi Rion. “Yeeee! Siapa juga yang mau ketemu lu. Adanya eneg gue sering
banget kena hukum lo mulu” jawab Rion dengan kesal disertai tatapan yang tidak
santai. “Heh’. Biar gini ada manfaatnya gue di sekolah ini. Nah lo mana? Gak ada
harinya buat masalah mulu. Ngerugiin diri sendiri lo!” jawab Argeo sembari
menasehati Rion Rion terdiam. Dia sadar bahwa banyak masalah yang dia lakukan,
tapi itu bukan dia yang memulainya. Kenapa mereka seakan membesar-besarkan?
“Udah. Sekarang lo pergi ke gudang belakang sekolah. Lo bersihin sampe kinclong.
Tuh ruang mau di pake nanti” perintah Argeo kepada Rion. Rion tercengang, gudang
sekolah itu harus dia bersihkan sendiri? Yang benar saja! “Eh Geo. Gue Cuma gak
pake atribut lengkap aja, masa hukuman gue gitu?!” protes Rion “Yang bilang
pelanggaran lo cuma gak pake atribut aja siapa hah?!” Jawab Argeo dengan
penekanan Raut bingung tampak di wajah Rion. Pelanggaran apa lagi yang dia buat?
“Lo dan temen lo itu udah berkendara ugal-ugalan. Bukan hanya gak pake helm,
nerobos lampu merah juga. Oh ya, kalian juga hampir nabrak orang di parkiran!”
jelas Argeo dengan rinci membuat Rion mengingat momen menakutkanya bersama
Andre. Rion kembali bingung, benar mereka hampir menabrak orang tadi diparkiran,
tapi nerobos lampu merah? Dari mana dia tahu? ‘Apa dia cenayang ya?’ tanya Rion
dalam hati. “Ya-a, tapi masa gue sendiri sih? “ Ringis Rion “Si Andre gimana?”
lanjutnya “Temen lo itu nanti gue urus, yang jelas sekarang lo kerjain tugas lo.
Nanti gue periksa dan gue laporin ke Pak Yanto. Awas kalo lo kabur!” Perintah
Argeo dengan penegasan. Dengan berat hati Rion segera menjalani hukumannya itu.
Sebelum pergi membersihkan gudang sekolah dia menggantikan baju putih abu-abunya
dengan baju olahraga yang dia bawa. Dia tidak mau baju yang harusnya dikenakan
dua hari itu bau apek karena keringatnya. Tidak lupa dia meminta izin kepada Pak
Feri, guru olahraganya, agar dia tidak dinyatakan bolos dari pelajaran. “Haaaah,
seharusnya gue ikut pelajaran olahraga sekarang, malah cosplay kang OB. Nasiiib,
nasiiib” Keluhnya sambil membawa beberapa peralatan kebersihan yang dia pinjam
dari ruang peralatan sekolah. Rion mencoba menikmati momen bersih-bersih
gudangnya. Sesekali dia bersenandung menghilangkan keheningan di ruangan yang
cukup luas itu. Sebenarnya dia sedikit takut mengingat gudang belakang sekolah
ini jarang dikunjungi orang-orang dan lokasinya juga sedikit tersembunyi. ‘Heran
gue. Kenapa ni gudang tiba-tiba mau dipake ya. Secara ni daerah jarang orang
lewatin. Misterius banget’ pikir Rion dengan herannya sembari menyekop debu yang
dia kumpulkan di sudut ruang dengan sapu lantai. Segala penjuru ruangan sudah
Rion bersihkan, debu-debu yang semula menggunung menutupi lantai dan peralatan
di dalamnya sudah dia singkirkan dengan sapu dan kemoceng yang dibawanya.
Rasanya sangat melelahkan, apalagi harus dia kerjakan sendiri. “Alhamdulillah,
tinggal ngepel lantai baru susun kursi-kursinya” ucap Rion sembari mencampurkan
air pel dengan cairan pembersih lantai dalam ember. “Syukur gue sering bantu
Bunda ngerjain pekerjaan rumah. Kalau gak ish ish ish. Ni badan gak bakal
sanggup kerja berat kayak gini” Ucap Rion dengan bangga. Hampir 2 jam Rion
membersihkan rungan itu dan kini gudang yang awalnya tampak suram sudah tertata
rapi dan juga bersih. Aroma apel semerbak memenuhi ruangan karena lantai yang
dipelnya belum sepenuhnya kering. Rion juga membuka tirai dan jendela-jendela
disana sehingga udara masuk dan bersirkulasi baik. Baru saja Rion membanggakan
diri dengan hasil kerja kerasnya, tiba-tiba ‘kruyuk’ perutnya berbunyi dan
terasa perih. “aduuuh, laper banget. Kesian banget badan gue belum makan udah
kerja rodi, hiks” saat hendak berbalik badan tiba-tiba ‘byuuur’ air pel yang
awalnya di dalam ember sudah sepenuhnya berpindah ke tubuhnya dan mengenai
lantai disekitarnya. “Astagfirullah. Lo apa-apaan!” teriak Rion dengan penuh
amarah kepada si pelaku yang kini menatapnya dengan remeh. Hilang sudah rasa
laparnya tadi “ Lo berani sama kita, hah!” ucap Dika yang ada di samping Roni,
Si Pelaku Penyiraman. Sementara dua orang lainnya bernama Ervi dan Rio berdiri
dibelakang mereka sambil mengamati lingkungan sekitar. “Gue gak punya masalah ya
sama lo! Ngapain lo nyiram gue?!” tanya Rion dengan tidak kalah. “Lo memang gak
punya masalah sama kita kita, tapi sama B O S kita!” Jawab Roni dengan
menekankan kata BOS yang tidak lain adalah Raymond, si ketua Geng Black Wolf,
yang ditakuti oleh anak-anak di SMA Satu Nusa. Geng Black Wolf sering melakukan
pembulian kepada anak-anak yang menurut mereka terlihat lemah entah kepada adik
kelas atau kakak kelas mereka. Namun, hal itu tidak terjangkau oleh pengamatan
guru-guru disana karena mereka melakukan pembulian secara sembunyi-sembunyi.
Sang ketua Raymond selalu berhasil menutupi apabila ada siswa yang mau
melaporkan dan juga dia memiliki jabatan penting dalam keanggotaan OSIS. Hal itu
membuat anak-anak yang terkena pembulian sulit untuk mengungkapkannya, ditambah
lagi Raymond adalah anak pemilik sekolah. “Gini ya, gue bantu lo inget-inget
lagi” Ucap Dika “Lo tau kan, naik motor ugal-ugalan itu bahaya! dan lo udah
hampir nabrak pacar BOS kita!” teriak Dika dengan garangnya. Rion tertegun.
Masalah tadi pagi ternyata berlarut-larut. Ingatkan dia untuk memarahi Andre,
enak saja Andre yang hampir nabrak malah dia yang kena batunya. “ Ya kan bukan
gue yang nyopirin! Tadi juga kita gak sengaja” jawab Rion dengan sedikit
membentak Mendengar jawaban Rion, Roni menjadi tersulut emosi. Karena Rion
bukannya meminta maaf malah memberikan jawaban dengan nada yang tidak
menunjukkan rasa bersalah. Roni segera mengepalkan tangan dan hendak memukul
Rion. Bersamaan dengan hal itu ‘plaak!’ sebuah tamparan keras dari sepatu
mengenai wajah Roni dan tercetak sangat jelas. “Argh! Siapa yang lemparin gue
pake sepatu!” Teriak Roni sambil memegang pipi kirinya yang memerah. Pipinya
terasa berdenyut dan perihnya bukan main. Siapa yang tahan kalau wajahnya
dilempar sepatu dengan kekuatan penuh? Apalagi tidak tahu siapa yang melempar.
“Roni, kayaknya ada orang lain disini. Yok kita cabut!” ucap Rio dengan wajah
paniknya. Keempat anak geng itu kemudian sepakat untuk pergi. “Awas aja lu.
Lihat aja nanti!” Ancam Roni kepada Rion sebelum berlari meninggalkan area
gudang. Rion mengambil napas panjang kemudian menghembuskannya berulang kali.
Dia berusaha mengontrol emosinya. Syukurlah bukan baju putih abu-abunya yang
terkena siraman air pel kotor, kalau iya? Entah pakai baju apa dia nanti.
Seseorang berlari dari kejauhan menghampiri Rion. Tampak dia hanya mengenakan
sebelah sepatu kirinya, karena sepatu kananya sudah dia gunakan sebagai senjata
untuk menghentikan perkelahian. “Yon, lo gak apa-apa?” Tanya sang penyelamat,
Argeo. Rion menatap Argeo dengan tidak bersemangat “Gue udah basah kuyup gini
masih lo tanya gak apa-apa?” jawab Rion dengan setengah emosi. Argeo terdiam.
Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Seharusnya dia tadi langsung
mengawasi Rion tanpa harus ke ruang OSIS dulu. Dia pun tidak sengaja melihat
Rion dan anak-anak Geng Balck Wolf sedang berseteru saat menuju gudang. Melihat
kondisi yang semakin runyam, Argeo memberanikan diri melepas sebelah sepatunya
dan melemparnya hingga mengenai wajah Roni. Sungguh itu bukan kesengajaannya.
Dia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk apalagi Rion harus menghadapi
mereka sendiri. “Lo gak ada niatan laporin masalah ini?” tanya Rion kepada Argeo
setelah dia merapikan peralatan kebersihannya dan hendak meninggalkan gudang.
Namun Argeo hanya diam. Rion memiringkan senyumnya. “Udah gue duga. Bahkan ketua
kedisiplinan OSIS kaya lo aja gak mampu hentikan mereka. Ini yang lo bilang
berguna?” Ucap Rion mengembalikan kata-kata yang di ucap Argeo dilapangan tadi.
Rion kemudian pergi meninggalkan Argeo dengan keterdiamannya. Bukannya Argeo
tidak mau membantu, Sebenarnya dia juga sudah lelah dengan permasalahan yang
dibuat anak-anak geng itu. Tapi, untuk berurusan dengan ketuanya adalah hal yang
rumit.
Selasa, 13 Agustus 2024
BAB 2. Kena Masalah
Motor yang dikendarai Andre dan Rion bergerak cukup lincah di jalan raya. Andre
yang sudah terbiasa berkendara cepat dengan lihai menyalip mobil dan motor,
mengabaikan umpatan dari para pengendara yang disalipnya. Seiring dengan
motornya yang melaju, sebanyak itu pula peraturan berkendara yang mereka
langgar. Apa saja? Mari kita jabarkan… Pertama, mereka adalah pelajar yang
rentang usianya 15 sampai 17 tahun. Yups, masih dibawah umur untuk mengedarai
kendaraan dijalan raya sesuai dengan Peraturan Lalu Lintas Pasal 281
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang
mengisyaratkan bahwa anak-anak dan pelajar yang berusia dibawah 16 tahun
dilarang keras mengendarai sepeda motor. Apalagi mereka belum cukup umur untuk
memiliki SIM. Kedua, mereka tidak memakai pelindung kepala, yups helm. Rion
tidak memakai helm karena lupa mengambilnya di bawah meja belajarnya. Tapi,
Andre? Dia sengaja, karena ingin menikmati angin kencang yang menerpa wajah dan
rambutnya. Untuk tebar pesona katanya. Ketiga, mereka berkendara melebihi batas
kecepatan sehingga berulang kali menerobos lampu merah. Rion sudah mengingatkan
Andre dari jauh ketika lampu lalu lintas beranjak dari kuning menuju merah.
Tapi, ya, Andre tetap kukuh. Takut pintu gerbang ditutup. Selama perjalanan
tidak henti-hentinya mulut Rion melafalkan doa. Cara Andre yang berkendara
80KM/Jam benar-benar membuat Rion takut dengan kematian. Dipersimpangan menuju
sekolah, Andre dan Rion melihat Pak Mukhlis satpam sekolah sudah berjaga dipintu
gerbang dan hendak menutupnya. Ketegangan terjadi antara Andre dan Rion.
“Paaaak! Tunggu Kitaaa!” Teriak Andre. Urusan kedua masalah maut!. Dengan
menambah kecepatan, motor Andre melaju kencang bahkan setengah terbang ketika
melewati Pak Mukhlis. ‘Ckiiiiit’, mereka sukses smemakirkan motor walaupun
hampir menabrak seorang siswi yang sedang berjalan. “Astagfirullah ! Gila lu ya
Ndre !” ucap Rion dengan emosi sambil memukul punggung Andre “Aaaw!” ringis
Andre, “ya maaf. Tapi berhasilkan tepat waktu?” jawab Andre dengan wajah
tengilnya sambil mengangkat jari jempolnya. Mereka pun berjalan sambil setengah
berlari dari parkiran ke kelas. Kejadian motor terbang itu disaksikan oleh
siswa-siswi yang berada disana, termasuk seorang remaja berpakaian OSIS yang
melihat kejadian itu. dia menatap tajam kemudian memiringkan senyumya. Lalu
beranjak masuk ke kelas-kelas menyuruh siswa-siswi segera ke lapangan untuk
melakukan upacara bendera. Sesampainya di kelas, Andre dan Rion segera
meletakkan tas mereka dan mengambil topi. Namun, raut tercengang tampak di wajah
Rion. “Lo kenapa?” Tanya Andre Dengan tatapan horror, Rion menoleh kearah Andre,
dan berkata “ Topi gue ketinggalaan!” Rion merasa pasrah. Pastinya dia harus
mengikuti upacara bendera dengan barisan tersendiri dan tentunya dibekali dengan
hukuman dari OSIS yang sering tidak ada hati nuraninya agar siswa-siswi yang
melanggar jera. Panas matahari terasa menjalar disekujur tubuh, bulir-bulir
keringat menghujani para peserta upacara yang berbaris mengahadap cahaya
matahari. Topi yang mereka gunakan tidak mampu menghalau sinar matahari yang
menyilaukan mata. Tatapan tidak bersahabat tampak ditujukan kepada peserta yang
berbaris di daerah teduh. Pohon-pohon rindang yang tumbuh subur dibelakang
mereka mengalau sengatan matahari dan memberikan suasana sejuk. Rion yang berada
di tengah dua kubu memperhatikan mereka dengan keringat dingin. Ikut berlarut
dalam perang dingin itu. “Kalau uapacara ya fokus! Kepala jangan noleh
kemana-mana” Tergur Pak Yanto dari belakang Rion. Rion terkejut lalu mengiyakan
teguran dari Pak Yanto “I-iya Pak. Maaf” Sempat nafas Rion terhenti karena
terkejut dengan Pak Yanto yang sudah ada dibelakangnya. Tatapannya tajam
memperhatikan seluruh siswa yang upacara lalu berkeliling sembari menegur siswa
yang tidak fokus atau rapi dalam barisan. Jangan lupa tongkat bambu yang selalu
dia bawa, benar-benar menambah kesan horror seorang guru yang terkenal killer di
SMA Satu Nusa itu. Rion menegakkan tubuhnya, kembali fokus dalam khidmatnya
upacara bendera. Walau sebenarnya dia merasa malu karena hanya dia sendiri yang
berada di barisan berbeda. ‘Dimana para siswa yang biasanya tidak lengkap
atributnya ketika upacara?’ begitu pikirnya. ‘Semoga saja hukumannya gak
aneh-aneh Ya Allah’ ratapnya dalam hati.
Sabtu, 10 Agustus 2024
BAB 1. Pagi Yang Genting
Pada suatu pagi yang damai di kota Jakarta, dimana sang surya mulai menampakkan
diri bersama orang-orang yang telah bangun dan sibuk belalu-lalang mengejar
waktu pagi yang genting mengingat hari ini adalah hari senin. Para pekerja yang
bertaruh waktu memecah jalan ibu kota dengan kendaraan pribadinya atau kendaraan
umum bahkan sebelum fajar menyingsing, bapak-bapak penjual koran yang menawarkan
korannya disela lampu merah, para pedagang yang menjual aneka makanan untuk
disantap sebagai sarapan, serta anak-anak sekolah yang mengejar waktu untuk
melaksanakan upacara bendera, saling bersaing diantara kemacetan yang menjadi
hal biasa bagi masyarakat disana. Namun, diantara hiruk pikuk dunia perkotaan
itu, seorang remaja masih setia menikmati bunga tidurnya tanpa mengidahkan
panggilan sang ibu yang berulangkali membangunkannya diluar kamar beserta suara
ketukkan pintu yang kini terdengar tidak santainya. Tuk tuk tuk tuk Tuk tuk tuk
tuk! Suara pintu kamar diketuk “Nak bangun nak! Udah siang ini. Nak, ayo
bangun!” tuk tuk tuk tuk! Suara panggilan sang ibu turut mengiringi ketukan
pintu.Namun, tidak ada tanda-tanda dari si anak bangun. ‘Haaaa’ sang ibu
menghela nafas, tertanda menyerah untuk membangunkan anaknya “Ya Allah, Ya
Allah, sabar. Kenapa susah sekali bangunin anak ini” Tidak lama kemudian
terdengar suara motor di depan rumah mereka. Klakson dibunyikan sekali lalu si
pengendara turun dari kijang besinya dan berjalan menuju kediaman sederhana itu.
“Assalammu’alaikum, bunda, Rion! “ Teriakan dari seorang remaja yang bernama
Andre Wijaya, sahabat dari Rion. “Andre masuk ya !” tanpa menunggu jawaban dari
empunya rumah, Andre berjalan memasuki rumah dan menuju ruang tengah. Terlihat
Bu Diana, ibunya Rion sedang berdiri di depan pintu salah satu kamar dengan raut
pasrah. “Bunda” Sapa Andre dengan lembut. “Eeh, nak Andre. Kapan datangnya?!”
Tanya Bu Diana setelah sadar dengan kehadirannya. Senyuman bahagia terpatri di
raut wajahnya. Bu Diana merasa legah, karena biasanya Andre mampu membangunkan
anaknya yang suka telat bangun itu. “Baru aja Bunda. Rion mana Bunda? Tanya
Andre “Hmmm. Kayak kamu gak tau aja, itu masih tidur Rionnya” Jawab Bunda sambil
menatap pintu kamar sang anak. “nak Andre, tolong bangunin ya. Bunda udah coba
bangunin dia dari tadi.” Pinta Bu Diana. “Siap Bunda! Kalau urusan bangunin Rion
serahkan saja pada ahlinya. Hehehe! Jawab Andre dengan cengiran sambil berpose
hormat. “Ya udah. Bunda ke ruang jahit dulu ya” Ucap Bu Diana lalu beranjak
menuju ruang kerjanya untuk menyelesaikan pesanan jahitan. Andre mengangguk lalu
mendekati pintu kamar. Dipegangnya pegangan pintu kamar sahabatnya itu. ‘Ceklek’
suara ganggang pintu kamar terbuka ‘Lah gak dikunci ternyata. Apa Bunda gak
ngecek tadi ya’ gumam Andre dalam hati. Andre pun membuka pintu kamar
sepenuhnya, lalu terlihatlah Rion yang masih terlelap namun hal itu membuat
Andre mengucapkan salah satu kalimat thayyibah merasa takjub dengan pemandangan
yang dilihatnya. “Masyaallah, Riooon!” ucapnya Bagaimana tidak, dilihatnya
sahabatnya itu tertidur dengan menggunakan pakaian solat lengakap diatas sejadah
sembari memegang Al-Qur’an yang masih terbuka. Punggung dan kepalanya dia
sandarkan ke pinggiran tempat tidur dengan mata terpejam. Perlahan Andre
mendekati sahabatnya itu lalu mengguncang pelan tubuhnya dan memintanya bangun.
Niatnya untuk membangunkan Rion dengan brutalnya seketika menghilang. Sepanjang
sejarahnya membangunkan Rion, baru kali ini dia melihat Rion tertidur ketika
sedang beribadah. “Yon, Yon, Rion. Ayo bangun!” ucap Andre sambil berusaha
membangunkan Rion. Dua kali percobaan, akhirnya Rion menunjukkan tanda-tanda
bangun. Matanya perlahan terbuka, dan dilihatnya sahabatnya Andre yang sudah
siap dan rapi untuk sekolah. ‘Hoaaaaaam’ Rion menguap sambil menutup mulutnya
“Ya Allah ngantuk bangeeeet” uacapnya dengan suara serak, lalu memejamkan
matanya lagi. “Ya Allah, yon. Lo masih ngantuk? Udah siang ini, jam setengah
tujuh! Gue udah siap, lo masih molor. Inget, inget kita mau upacara!” ucap Andre
dengan geregetnya. Seketika mata Rion yang awalnya masih terbejam langsung
terbuka sempurna. “Ya Allah, gue lupaaaaa!” teriak Rion. Rion segera bangun dari
sandarannya, meletakkan Al-Qur’annya di atas meja belajar, melepaskan perangkat
solatnya asal dan langsung menyambar handuk untuk mandi. “Yoooooon! Gesit ya….!
Gue tinggalin lu kalau lama!” Teriak Andre, menambah kepanikan sahabatnya itu.
Andre keluar dari kamar Rion menuju ruang tamu sambil menggeleng-gelengkan
kepala dan gelak tawa. Merasa lucu dengan tingkah sahabatnya itu. Dalam
perjalanannya kesana, dilihatnya dua tempat makan di atas meja tamu. Ya , itu
adalah sarapan sekaligus bekal yang disiapkan Bu Diana untuk Rion. Rion jarang
jajan di sekolahnya dan lebih memilih memakan bekal yang disiapkan ibunya.
Terkadang Andre merasa iri dengan keharmonisan keluarga Rion. Meskipun berjuang
sendiri sebagai orang tua tunggal Bu Diana tetap tidak lupa memperhatikan Rion
disela kesibukannya. Sementara keluarganya, entahlah. Ayah dan Ibunya jarang ada
di rumah karena sibuk dengan pekerjaan mereka. Jangankan menyempatkan waktu
untuk menghabiskan waktu sekeluarga, menyempatkan untuk sarapan bersama saja
tidak pernah. Tatapan yang mulanya penuh dengan senyum tawa itupun berubah
dengan kesedihan. Tidak terasa air mata mengalir di sudut matanya. Segera Andre
menghapus air mata itu lalu mengambil nafas, berusaha tabah dengan apa yang
terjadi dengan keluarganya. Sepuluh menit berlalu, Rion pun sudah siap dengan
seragam sekolah, sepatu di tangan kiri, dan tas ransel di bahu kanannya. Dengan
sedikit berlari ke ruang tamu, Rion berteriak memanggil Bundanya. “Bundaaa!
Bunda! Rion dan Andre mau berangkat sekolah” Bu Diana datang menghampiri mereka.
Namun, terdapat satu kotak makan ditangannya. “Iya nak” Jawab Bu Diana. Bu Diana
kemudian menyerahkan kotak makan itu ke Andre. Andre terlihat terkejut dan
antusias menerimanya. “Loh, Bunda ini untuk Andre?” tanyanya “Iya, Bunda masak
banyak tadi. jadi Bunda siapkan juga buatmu” jawab Bu Diana dengan senyumnya.
Andre pun mengangguk lalu mengucapkan terima kasih ke Bu Diana . “Terima kasih,
Bunda” “Iya, sama-sama. Jangan lupa dimakan ya nak” jawab Bu Diana Bu Diana
kemudian mengambil dua kotak makan yang ada di atas meja tamu lalu memasukkannya
ke dalam tas Rion. “Makan yang banyak ya, nak” pesan Bu Diana “Siap Bundaaa!”
Jawab Rion Rion dan Andre kemudian berpamitan kepada Bu Diana. Tidak lupa mereka
mencium tangannya dan Bu Diana membalas dengan mengusap kepala mereka.
“Hati-hati dijalan!” Pesan Bu Diana “Iya, Bunda!” Jawab mereka serempak. Andre
dan Rion kemudian menaiki motor dan bergabung dengan pengendara lainnya membelah
jalanan ibu kota yang padat.
PROLOG
Eri dan Rion adalah saudara kembar yang terpisah dari sejak bayi. Karena faktor
ekonomi Bu Diana selaku orangtua tunggal si kembar terpaksa melepaskan kepergian
putra pertamanya Eri untuk diadopsi oleh sepasang suami istri yang membantunya
melunasi hutang dari seorang renternir. Perpisahan Eri dan Rion berlangsung
lama, hingga keduanya beranjak SMA barulah perlahan kenyataan terungkap dari
suatu ketidaksengajaan. Dilain sisi, kehidupan yang mereka jalani sangat
berbeda. Eri di Bandung dengan kehidupan yang serba ada bersama ketiga adiknya
karena kekayaan dari keluarga Areez selaku keluarga yang telah mengadopsinya,
sedangkan Rion di Jakarta hidup dengan pas-pasan dari usaha menjahit ibunya dan
kerjanya di malam hari dengan membantu penjual nasi goreng. Tidak jarang Rion
mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari teman-teman sekolahnya yang
mana SMA yang dia masuki termasuk sekolah menengah ke atas. Namun, dia akan
melawan dan tidak pasrah saja ketika mendapatkan perlakuan tersebut dan karena
itu juga dia sering terjaring BK sehingga poin pelanggarannya di sekolah semakin
bertambah. Namun itu ditutupi dengan prestasi-prestasi yang dimilikinya. Eri
yang mengetahui fakta bahwa ibu dan saudara kandungnya dalam keadaan tidak
baik-baik saja tentu tidak diam. Dia meminta izin kepada kedua orang tua
angkatnya untuk pergi ke Jakarta menemui ibu dan saudara kandungnya. Seperti apa
kehidupan baru yang akan mereka jalani? Tertanda Tangan: @Ruang_Karya
Langganan:
Komentar (Atom)
BAB 5. DENTINGAN YANG MERDU
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Waktu terus berjalan tanpa tahu kapan akan berhenti barangkali sejenak. Mentari meredup hendak kembali ke peraduan dikala dirinya tela...
-
Siang itu cuaca terlihat tidak baik-baik saja. Langit tampak mendung disertai angin yang berhembus cukup kencang. Hembusannya mampu me...
-
Upacara bendera telah selesai, para siswa berhamburan kembali ke kelasnya dan beberapa meluangkan diri menuju taman sekolah untuk dudu...




